SUFI PEJUANG

Berjuang Menggapai Cinta Hakiki

Rasulullah saw Menghidupkan Orang Mati

Posted by sufipejuang pada Januari 11, 2011

Mungkin kita sangat mengenal mukjizat Nabi Isa yang dapat menghidupkan orang mati. Rupanya, Rasulullah Muhammad saw pun mendapatkan mukjizat tersebut. Sebagai Sayyidul Mursalin, tentunya Rasulullah saw mendapat kemuliaan memperoleh semua mukjizat yang diberikan kepada Nabi-Nabi yang lain.

Berikut kisahnya:

Dalam kitab

Al-‘Ulum al-Fakhirah fi al-Nazhri fi Umur al-Akhirab, Sayyid `Abdurrahman bin Muhammad al Tsa`labi al-Ja`fari al-Maghribi, yang dimakamkan di Aijazair, mengemukakan riwayat Anas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw berkata kepada Fari’ah, “Sesungguhnya anak laki-lakimu, Ibrahim, telah mati.” Fari’ah lalu berkata, “Sungguhkah,ya Rasululullah?” Rasul menjawab, “Ya.” Fari’ah lalu berdoa, “Segala puji bagi Allah. Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku berhijrah kepadaMu dan kepada Nabi-Mu dengan harapan agar Engkau menolongku dalam setiap kesulitan. Oleh karena itu, jangan Engkau timpakan musibah ini atasku.” Rasulullah membuka penutup wajah anak Fari’ah, kemudian anak itu hidup kembali dan makan bersama kami.

Hikayat ini juga dituturkan oleh Ibnu Qattan dan `Iyadh dari Anas r.a. dengan redaksi, `Ada seorang pemuda dari golongan Anshar meninggal dunia. Ia mempunyai seorang ibu yang lemah dan buta. Kami mengafani jenazahnya dan menghibur hati ibunya agar sabar. Kemudian ibunya bertanya, `Benarkah putraku telah mati?’ Kami menjawab, `Ya.’ Ibunya lalu berdoa, `Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku benar-benar berhijrah kepada-Mu dan kepada Nabi-Mu.’ Kisah selanjutnya sama dengan hadis di atas. Riwayat lain dan Ibnu Qattan menceritakan bahwa ketika itu, Allah Swt. menghidupkan anaknya, lalu anak itu makan di hadapan Rasululahh Saw.

Kisah tersebut juga saya kemukakan dalam bab IV kitab Hujjatullah ‘ala al-Alamin. Anas r.a. berkata, “Ketika kami sedang berada di beranda masjid di hadapan Rasulullah Saw, datanglah seorang perempuan tua dan buta yang ikut hijrah membawa putranya yang telah baligh. Tak lama kemudian, putranya terkena penyakit yang scdang mewabah di Madinah. Anak itu sakit beberapa hari, kemudian meninggal dunia. Nabi Saw. menutupkan mata anak itu dan memerintahkan kami untuk mempersiapkan pemakamannya. Ketika kami akan memandikannya, Rasulullah Saw berkata, Anas, panggillah ibunya dan beritahukan kabar ini kepadanya.’ Aku memberitahu ibunya, ia datang lalu duduk di depan kedua kaki anaknya. Ia memegang kedua kaki anaknya, dan bertanya, ‘Benarkah anakku mati?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Ibu itu berdoa, ‘Ya Allah, Engkau tahu aku benar-benar telah menyerahkan diri kepada-Mu dengan sukarela, meninggalkan berhala-berhala dengan sungguh-sungguh, dan berhijrah kepada-Mu karena rasa cinta.Ya Allah, janganlah Engkau masukkan aku ke dalam golongan penyembah berhala, dan janganlah Engkau timpakan musibah yang tidak mampu aku pikul.’ Demi Allah, belum sempat ibu itu menyelesaikan doanya, kedua kaki anaknya bergerak-gerak dan menyibakkan pakaian yang menutupi wajahnya. Kemudian anak itu makan bersama kami dan Rasulullah Saw. Anak itu hidup kembali sampai Nabi Saw dan ibunya wafat.” (HR Ibnu ‘Adiy, Ibnu Abi Dunya, Al-Baihagi, dan Abu Na’im)

sumber: http://kawansejati.ee.itb.ac.id/fariah-al-anshariyah

Posted in Kesadaran | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Allahu Akbar, Nabi Akhir Zaman itu Masih Hidup Setelah Kewafatannya

Posted by sufipejuang pada Januari 10, 2011

Penjelasan bahwa Rasulullah Muhammad saw masih hidup setelah kewafatannya saya kutipkan dari kitab Tanwirul Halak karya Imam Suyuti ( selengkapnya bisa dibaca disini: http://kawansejati.ee.itb.ac.id/tanwir-al-halak )

Berikut kutipan dari Kitab Tanwirul Halak:

Imam al-Baihaqi telah membahas sepenggal kehidupan para nabi. Ia menyatakan dalam kitab Dalailun Nubuwwah: “Para nabi hidup di sisi Tuhan mereka seperti para syuhada.”

Abu Manshur ‘Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi mengatakan: “Para sahabat kami yang ahli kalam al-muhaqqiqun berpendapat bahwa Nabi kita Muhammad saw hidup setelah wafatnya. Adalah beliau saw bergembira dengan ketaatan ummatnya dan bersedih dengan kemaksiatan mereka, dan beliau membalas shalawat dari ummatnya.” Ia menambahkan, “Para nabi as tidaklah dimakan oleh bumi sedikit pun. Musa as sudah meninggal pada masanya, dan Nabi kita mengabarkan bahwa beliau melihat ia shalat di kuburnya. Disebutkan dalam hadis yang membahas masalah mi’raj, bahwasanya Nabi Muhammad saw melihat Nabi Musa as di langit ke empat serta melihat Adam dan Ibrahim. Jika hal ini benar adanya, maka kami berpendapat bahwa Nabi kita Muhammad saw juga hidup setelah wafatnya, dan beliau dalam kenabiannya.”

Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah mengenai hadis kematian dari syeikhnya mengatakan: “Kematian bukanlah ketiadaan yang murni, namun kematian merupakan perpindahan dari satu keadaan kepada keadaan lain. Hal ini menunjukkan bahwa para syuhada (orang yang mati syahid) setelah kematian mereka, mereka hidup dengan diberikan rejeki, dalam keadaan gembira dan suka cita. Hal ini merupakan sifat orang-orang yang hidup di dunia. Jika sifat kehidupan di dunia ini saja diberikan kepada para syuhada (orang yang mati syahid), tentu para nabi lebih berhak untuk menerimanya.

Benar, ungkapan yang mengatakan bahwa bumi tidak memakan jasad para nabi as. Hal itu terbukti bahwa Nabi Muhammad saw berkumpul dengan para nabi pada malam isra’ di Baitul Maqdis dan di langit, serta melihat Nabi Musa berdiri shalat di kuburnya. Nabi juga mengabarkan bahwa beliau menjawab salam dari orang yang mengucapkan salam kepadanya. Sampai hal yang lebih dari itu, di mana secara global hal tersebut bisa menjadi dasar penyangkalan terhadap kematian para nabi as yang semestinya adalah mereka kembali; gaib dari pada kita, hingga kita tidak bisa menemukan mereka, padahal mereka itu wujud, hidup dan tidaklah melihat mereka seorang pun dari kita melainkan orang yang oleh Allah diberikan kekhususan dengan karamah.

Abu Ya’la dalam Musnadnya dan al-Baihaqi dalam kitab Hciycitul Anbiyci’ mengeluarkan hadis dari Anas ra:

Nabi saw bersabda: “Para nabi hidup di kubur mereka dalam keadaan mengerjakan shalat.”

Al-Baihaqi mengeluarkan hadis dari Anas ra:

Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya para nabi tidaklah ditinggalkan di dalam kubur mereka setelah empat puluh malam, akan tetapi mereka shalat di hadapan Allah SWT sampai ditiupnya sangkakala.”

Sufyan meriwayatkan dalam al-Jami’, ia mengatakan: “Syeikh kami berkata, dari Sa’idbin al-Musayyab, ia mengatakan, “Tidaklah seorang nabi itu tinggal di dalam kuburnya lebih dari empat puluh malam, lalu ia diangkat.”

Al-Baihaqi menyatakan, atas dasar inilah mereka layaknya seperti orang hidup kebanyakan, sesuai dengan Allah menempatkan mereka.

‘Abdur Razzaq dalam Musnadnya meriwayatkan dari as-Tsauri, dari Abil Miqdam, dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata: “Tidaklah seorang nabi mendiami bumi lebih dari empat puluh hari.”

Abui Miqdam meriwayatkan dari Tsabit bin Hurmuz al-Kufi, seorang syeikh yang shaleh, Ibn Hibban dalam Tarikhnya dan Thabrani dalam al-Kabir serta Abu Nua’im dalam al-Hilyah, dari Anas ra berkata:

Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang nabi pun yang meninggal, kemudian mendiami kuburnya kecuali hanya empat puluh hari.”

Imamul Haramairi dalam kitab an-Nihayah, dan ar-Rafi’i dalam kitab as-Syarah diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda

“Aku dimuliakan oleh Tuhanku dari ditinggalkannya aku dikubur selama tiga hari.”

Imam al-Haramain menambahkan, diriwayatkan lebih dari dua hari. Abui Hasan bin ar-Raghwati al-Hanbali mencantumkan dalam sebagian kitab-kitabnya:

“Sesungguhnya Allah tidak meninggalkan seorang nabi pun di dalam kuburnya lebih dari setengah hari.”

Al-Imam Badruddin bin as-Shahib dalam Tadzkirahnya membahas dalam satu bab tentang hidupnya Nabi saw setelah memasuki alam bnrzokh. Ia mengambil dalil penjelasan Pemilik syari’at (Allah) dari firmanNya:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah, itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rejeki,” (QS. Ali ‘Imran: 169).

Keadaan di atas menjelaskan tentang kehidupan alam barzakh setelah kematian, yang dialami oleh salah satu golongan dari ummat ini yang termasuk dalam golongan orang-orang yang bahagia (sn’ada’). Apakah hal-ikhwal mereka lebih tinggi dibandingkan dengan kedudukan Nabi saw? Sebab mereka memperoleh kedudukan semacam ini dengan barakah dan dengan sebab mereka mengikuti beliau, serta bersifat dengan hal yang memang selayaknya mereka memperoleh ganjaran kedudukan ini dengan syahadah (kesaksian), dan syahadah Nabi Muhammad saw itu merupakan paling sempurnanya syahadah.

Nabi Muhammad saw bersabda:

“Aku melewati Nabi Musa as pada malam aku dasra’kan berada di sisi bukit pasir merah, ia sedang berdiri shalat di kuburnya.”

Hal ini jelas sebagai penetapan atas hidupnya Musa as, sebab Nabi saw menggambarkannya sedang melakukan shalat dalam posisi berdiri. Hal semacam ini tidaklah disifati sebagai ruh, melainkan jasad, dan pengkhususannya di kubur merupakan dalilnya. Sebab sekiranya (yang tampak itu) adalah sifat-sifat ruh, maka tidak memerlukan pengkhususan di kuburnya. Tidak seorang pun yang akan mengatakan/berpendapat bahwa ruh-ruh para nabi terisolir (terpenjara) di dalam kubur beserta jasadnya, sedangkan ruh-ruh para su’ada’ (orang-orang yang bahagia/sentosa) dan kaum mukminin berada di surga.

Di dalam ceritanya, Ibn ‘Abbas menuturkan ra:

“Aku merasa tidak sah shalatku sepanjang hidup kecuali sekali shalat saja. Hal itu terjadi ketika aku berada di Masjidil Haram pada waktu Shubuh. Ketika imam takbiratul ihram, aku juga melakukan hal yang sama. Tiba-tiba aku merasa ada kekuatan yang menarikku; kemudian aku berjalan bersama Rasuhdlah antara Mekkah dan Madinah. Kemudian kami melewati sebuah lembah. Nabi bertanya, “Lembah apakdh ini?”Mereka menjawab, “Lembah Azraq.”Kemudian Ibn ‘Abbas berkata, “Seolah-olah aku melihat Musa meletakkan kedua jari telunjuk ke telinganya sambil berdoa kepada Allah dengan talbiyah melewati lembah ini. Kemudian kami melanjutlam perjalanan hingga kami sampai pada sebuah sungai kecil di bukit.” Ibn ‘Abbas melanjutkan kisahnya, “Seolah-olah aku melihat Nabi Yunus di atas unta yang halus, di atasnya ada jubah wol melewati lembah ini sambil membaca talbiyah.”

Dipertanyakan di sini, bagaimana Ibn ‘Abbas bisa menuturkan tentang haji dan talbiyah mereka, padahal mereka sudah meninggal? Dijawab: bahwasanya para syuhada itu hidup di sisi Tuhan mereka dengan diberikan rejeki, maka tidak jauh pula, jika mereka haji dan shalat serta bertaqarrub dengan semampu mereka, meskipun mereka berada di akhirat. Sebenarnya mereka di dunia mi, yakni kampungnya amal, sampai jika telah habis masanya dan berganti ke kampung akhirat, yakni kampungnya jaza’ (pembalasan), maka habis pula amalnya. Ini pendapat dari al-Qadhi Iyadh.

Al-Qadhi Iyadh mengatakan bahwa mereka itu melaksanakan haji dengan jasad mereka dan meninggalkan kubur mereka, maka bagaimana bisa diingkari berpisahnya Nabi saw dengan kuburnya, jika beliau haji, shalat ataupun isra’ dengan jasadnya ke langit, tidaklah beliau terpendam di dalam kubur.

Kesimpulannya dari beberapa penukilan dan hadis tersebut, bahwa Nabi saw hidup dengan jasad dan ruhnya. Dan beliau melakukan aktivitas dan berjalan, sekehendak beliau di seluruh penjuru bumi dan di alam malakut. Dan beliau dalam bentuk/keadaan seperti saat sebelum beliau wafat, tidak berubah sedikit pun. Beliau tidak tampak oleh pandangan sebagaimana para malaikat yang wujudnya adalah ada dan hidup dengan jasad mereka. Jika Allah berkehendak mengangkat hijab tersebut terhadap orang yang Dia kehendaki sebagai bentuk anugerah dengan melihat Nabi, maka orang tersebut akan melihat beliau dalam keadaan apa adanya (seperti saat beliau hidup) dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi dari hal tersebut serta tidak ada pula yang menentang atas pengkhususan melihat yang semisalnya.

Posted in Kesadaran, Tarekat | Dengan kaitkata: , , , , , , | 1 Comment »

‘Ala bin Hadhrami r.a, Tokoh Sufi Pejuang

Posted by sufipejuang pada Januari 9, 2011

3 kisah berkenaan dengan Ala bin Hadhrami r.a dari http://kawansejati.ee.itb.ac.id/ala-bin-hadhrami-r-a

Kisah 1

Abu Hurairah r.a. bercerita, ‘Aku melakukan perjalanan bersama `Ala’ bin Hadhrami dalam suatu rombongan, lalu aku melihatnya berperilaku aneh yang tidak masuk akal. Kami berhenti di tepi pantai, lalu ‘Ala’ berkata, `Sebutlah nama Allah dan terjunlah ke laut!’ Kami menyebut nama Allah lalu menceburkan diri ke laut. Kami menyeberangi laut itu, tetapi airnya hanya setinggi kaki unta kami. Dalam perjalanan pulang, kami sampai di padang sahara padahal kami sama sekali tidak memiliki air, maka kami mengadu kepada `Ala’. la melakukan shalat dua rakaat, lalu berdoa. Tiba-tiba langit gelap, kemudian hujan turun menyirami kami, sehingga kami bisa meminum airnya. Kemudian `Ala’ meninggal dunia, kami menguburkannya di hamparan tanah berpasir. Beln jauh kami melanjutkan perjalanan, kami khawatir ada binatang buas yang akan memangsa jenazahnya. Maka kami kembali, namun pusaranya sudah tidak ada.” (Riwayat Abu Na’im)

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah menceritakan bahwa dalam suatu perjalanan, Ala’ menyeberangi laut dengan mengendarai kudanya. Ketika pulang, mereka sampai di sebuah padang sahara padahal mereka tidak memiliki air. `Ala lalu berdoa kepada Allah, tiba-tiba memancar sumber air dari bawah tanah berpasir. Mereka minum dan merasa segar kembali, lalu melanjutkan perjalanan. Salah seorang dari mereka ketinggalan barang bawaannya, maka ia kembali lagi, tetapi tidak menemukan sumber air itu. Kemudian `Ala’ meninggal dunia, padahal mereka tidak memiliki air. Tiba-tiba muncul mendung, lalu hujan turun. Mereka memandikan dan memakamkannya. Ketika mereka kembali ke tempat Ala dimakamkan, pusaranya sudah tidak ada. (Riwayat Ibnu Sa’ad)

Kisah 2

Alias r.a. bertutur, “Aku menemukan tiga keajaiban yang dimiliki umat Islam ini. Seandainya Bani Isra’il yang memiliki keajaiban itu, niscaya umat-umat lain tidak akan mengadakan perjanjian dengan mereka.” Salah satu keajaiban yang diceritakan Anas: ‘Umar bin Khattab mempersiapkan pasukan perang termasuk Anas dan mengangkat `Ala’ bin Hadhrami sebagai pemimpinnya. Selanjutnya mereka mendatangi medan peperangan, dan melihat musuh telah mempersiapkan strateginya dengan menutup saluran-saluran air. Hari teramat panas, mereka dan binatang-binatang mereka merasa kehausan. Menjelang matahari terbenam, mereka shalat dua rakaat. Kemudian ‘Ala’ bin Hadhrami mengangkat tangannya, padahal di langit tidak ada apa-apa. Sebelum ia menurunkan tangannya, Allah mengirimkan angin dan memunculkan mendung. Lalu turunlah hujan, sehingga tempat berbatu yang sulit dilewati juga celah di antara dua bukit penuh dengan air. Mereka minum dan membawa bekal minuman.

Kemudian mereka mendatangi musuh, tetapi musuh telah melintasi teluk menuju daratan di seberang laut. ‘Ala’ berhenti di atas teluk itu, lalu berdoa, “Wahai Zat Yang Maha Tinggi, Maha Agung, dan Maha Mulia.” Lalu berkata, “Seberangilah dengan menyebut asma Allah.” Mereka menyeberangi laut itu, airnya hanya setinggi kuku kaki binatang. Ala’ kemudian meninggal dunia, dan dimakamkan. Selesai dimakamkan, ada seorang laki-laki datang dan bertanya, “Siapa dia?” Mereka menjawab, “Manusia yang paling baik, putra Hadhrami.” Laki-laki itu berkata, “Daerah ini tidak bisa digunakan untuk mengubur jenazah, karena sering ada binatang buas yang menggali tanah untuk mencari makan. Sebaiknya kalian memindahkan jenazahnya ke daerah yang aman, satu atau dua mil dari sini.” Mereka khawatir ada binatang buas yang memangsa jenazah Ala, maka mereka sepakat untuk menggali makamnya, tetapi jenazahnya sudah tidak ada di sana lagi, dan mendadak liang lahatnya terlihat memanjang dan mengeluarkan cahaya berkilauan. Mereka mengurug makamnya kembali, lalu melanjutkan perjalanan.” (Riwayat Al-Baihaqi)

Kisah 3

Dalam kitab Al Aghani li Abi al-Faraj al-Ashbahani, kisah Ala’ bin Hadhrami diceritakan secara panjang lebar berdasarkan riwayat Muhammad bin Jarir. Munjab bin Rasyid (sahabat Rasulullah Saw) menuturkan kisah tersebut sebagai berikut, Abu Bakar mengutus Ala’ bin Hadhrami dan pasukannya unruk mcmerangi orang-orang murtad di Bahrain. Orang-orang muslim yang tidak murtad menyusul pasukan Ala’ sewaktu mereka, berjalan di padang terbuka. Ketika sampai di tengah-tengah padang itu, Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada mereka. Ala’ turun dari kendaraannya dan menyuruh pasukannya untuk turun.

Di tengah malam, unta-unta mereka lari ketakutan sampai tak tersisa satu pun, dengan membawa semua perbekalan dan tenda yang belum sempat mereka turunkan dari punggung unta-unta itu. Mereka tidak mengerti sekelompok hewan apa yang menyerang unta-unta itu, tetapi tidak menyerang diri mereka. Mereka saling memperingatkan untuk tetap waspada, lalu pemberi aba-aba menyuruh mereka berkumpul. Ala’ kemudian berkata, “Apa yang telah menyerang dan mengalahkan kalian?” Orang-orang mengadu kepadanya, “Kita terjebak di tengah-tengah padang pasir tanpa air. Jika kita di sini sampai besok meskipun matahari tidak menyengat, maka kita hanya pulang tinggal nama.” Ala’ berkata, “Jangan takut! Bukankah kalian orang-orang muslim? Bukankah kalian berjuang di jalan Allah! Bukankah kalian penolong-penolong agama Allah?” Mereka menjawab, “Ya.” Ala’ berkata lagi, “Bergembiralah! Demi Allah, Allah Yang Maha Suci dan Maha Luhur tidak akan menelantarkan kalian dalam kondisi seperti ini.”

Seorang muazin kemudian mengumandangkan azan shalat subuh ketika fajar terbit. Ala’ shalat bersama pasukannya. Sebagian dari mereka bersuci dengan tayammum, dan sebagian lagi masih dalam keadaan suci. Selesai shalat, Ala’ berlutut diikuti oleh pasukannya.Aa berdoa dengan sungguh-sungguh begitu juga pasukannya. Kemudian mereka melihat fatamorgana. Belum selesai Ala berdoa, mereka melihat fatamorgana lagi. Komandan perang berseru, ‘Air.” Ala’ berdiri dikuti oleh pasukannya. Mereka mendekati air itu, lalu minum dan mandi. Matahari belum begitu tinggi, ketika unta-unta datang dari berbagai arah mendekati mereka. Setiap orang menunggang satu unta, sehingga tak satu pun yang berjalan. Setelah minum, mereka merasa puas dan segar kembali, lalu melanjutkan perjalanan.

Pada waktu itu, Munjab bin Rasyid berjalan bersisian dengan Abu Hurairah. Setelah jauh dari tempat itu, Abu Hurairah bertanya kepada Munjab, “Menurutmu, di mana sumber air yang tadi kita pakai?” Munjab menjawab, “Aku orang yang paling mengetahui daerah ini.” Abu Hurairah berkata, “Kalau begitu, mari kita kembali sampai kau bisa menunjukkan kepadaku sumber air tersebut.” Munjab dan Abu Hurairah kembali ke tempat itu, tetapi keduanya tidak menemukan kolam dan jejak air itu. Munjab berkata kepada Abu Hurairah, “Demi Allah, meski aku tidak melihat kolam air, aku yakin ini tempat kita tadi, dan aku tidak pernah melihat air di tempat ini sebelumnya.” Kemudian Abu Hurairah melihat sekeliling, tiba-tiba ada kantong kulit penuh dengan air. Abu Hurairah berkata, “Hai Sahm, demi Allah, inilah tempat itu. Mari kita isi kembali kantong kulit kita, lalu letakkan di tepi lembah.” Munjab menimpah, “Ini adalah anugerah dan tanda kekuasaan Allah.” Munjab meyakini hal itu, lalu memuji Allah.

Kemudian Ala dan pasukannya melanjutkan perjalanan, hingga tiba di tempat bernama Hijr. Pasukan muslimin berperang dengan orangorang kafir dan berhasil mengalahkan mereka di sana. Orang-orang kafir melarikan diri ke daratan di seberang laut. Mereka menyeberangi laut dengan menggunakan kapal. Allah mengumpulkan mereka di daratan tersebut. Ala’ memerintahkan pasukannya mengejar mereka, dan berkhutbah, ‘Allah Yang Maha Agung dan Perkasa telah membuat kalian nenghadapi pasukan setan dan perang yang berat pada hari ini. Dia telah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kalian di daratan, agar kalian bisa mengambil pelajaran darinya untuk bisa menyeberangi laut ini. Bangkitlah untuk melawan musuh kalian, perlihatkan kepada mereka bahwa kalian bisa menyeberangi laut meski tanpa kapal, karena Allah juga telah mengumpulkan mereka di daratan tersebut.” Pasukannya menjawab, “Kami akan melakukannya, kami tidak akan takut. Demi Allah, kami telah berhasil menaklukkan padang sahara tadi maka kami yakin Allah akan menolong kami untuk menaklukkan lautan itu.”

Ala’ dan pasukannya melanjutkan perjalanan, sampai tiba di tepi laut. Mereka melintasi laut itu dengan naik kuda, beserta binatang angkutan, sekawanan unta, bagal, dan ada pula yang berjalan kaki. Ala membaca doa, “Wahai Zat Yang Maha Pengasih di antara Yang Pengasih, Yang Maha Mulia, Yang Maha Bijaksana, tempat berlindung, Yang Maha Hidup, Yang menghidupkan yang mati, Yang Maha hidup lagi Maha menegakkan, dada tuhan selain Engkau, wahai Tuhan kami.”

Mereka melintasi laut itu dengan izin Allah seperti berjalan di atas pasir, dan airnya hanya setinggi tapak kaki kuda. Laut itu biasanya ditempuh selama sehari semalam dengan naik kapal. Pasukan muslimin sampai ke daratan. Mereka tidak membiarkan satu orang musyrik pun lolos, menawan anak-anak, dan mengambil harta rampasan perang. Saat itu, pasukan berkuda kaum muslimin berjumlah 6000 orang dan yang berjalan kaki 2000 orang. Selesai perang, mereka pulang dengan menyeberangi laut seperti sebelumnya.

‘Atiq menyenandungkan syair tentang peristiwa ini:

Tidakkah engkau lihat Allah telah menundukkan laut-Nya
Dan menyerang orang-orang kafir dengan kekuasaan-Nya
Orang yang membelah lautan kembali datang kepada kami
Dengan keajaiban yang lebih mengagumkan daripada membelah lautan

Ala’ dan pasukannya pulang dari daratan itu kecuali orang-orang yang ingin tinggal di sana. Di Hijr, ada seorang rahib yang masuk Islam. Rahib itu ditanya, “Apa yang mendorongmu untuk masuk Islam?” Ia menjawab, ‘Ada tiga keajaiban pasukan muslimin yang telah aku saksikan, yakni munculnya banyak air di padang yang gersang, terbukanya jalan di lautan, dan doa mereka yang kudengar di udara seperti sihir. Setelah menyaksikannya, aku takut Allah akan memperburuk keadaanku bila aku tidak masuk Islam.” Orang-orang bertanya, “Doa apa itu?” Ia menjawab, “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pcngasih dan Penyayang, tiddatuhan selain Engkau, Yang Menciptakan scgala sesuatu yang sebelumnya tidak ada, Yang Maha Kekal dan tidak pernah lengah, Yang Maha Hidup dan tidak akan mati, Yang menciptakan sesuatu yang terlihat dan tak terlihat. Setiap hari ada karena kehendak-Mu. Ya Allah yang mengetahui segala sesuatu tanpa belajar. Aku yakin kekalahan kaum kafir adalah kehendak dan perintah Allah.” Sahabat-sahabat Rasulullah Saw mendengarkan doa yang diungkapkan seorang rahib dari Hijr itu

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Perlukah Bertarekat?

Posted by sufipejuang pada Januari 29, 2008

mac Berkata:

orang harus bertarekat dunk??

padahal tarekat2 sdh termasuk dari golongan2 orang islam yg diisyaratkan nabi orang islam terpecah menjadi 73 golongan ,dan hanya satu yg selamat ahlussunnah wal jamaah, bisa kasih pencerahan mas?

Saya akan coba jawab pertanyaan ini. Semoga dengan berkat dan karomah guru saya, saya dapat memberikan penjelasan yang mudah dipahami.

Haruskah bertarekat?

Ya, setiap orang perlu bertarekat.

Mengapa?

Tarekat berasal dari kata ‘thariqah’ yang artinya ‘jalan’. Jalan yang dimaksud di sini adalah jalan untuk menjadi orang bertaqwa, menjadi orang yang diredhoi Allah s.w.t. Secara praktisnya tarekat adalah kumpulan amalan-amalan lahir dan batin yang bertujuan untuk membawa seseorang untuk menjadi orang bertaqwa.

Seperti yang sudah saya jelaskan dalam tulisan yang berjudul : Hidup Menurut Aturan Allah, manusia perlu menjalani Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat.

Syariat adalah peraturan lahir dan batin atau hukum Allah yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an dan dijelaskan oleh hadis Rasulullah SAW. Hukum Syariat terdiri dari lima hukum, yaitu wajib, sunat, haram, makruh dan mubah.

Untuk mudah dipahami, dapat kita kiaskan seperti orang yang hendak berjalan dari Bandung menuju Jakarta.

Peraturan, peta, dan segala ilmu mengenai bagaimana menuju Jakarta itu adalah SYARIAT.

Kemudian menjalani perjalanan dari Bandung ke Jakarta itu adalah TAREKAT.

Orang yang hendak ke Jakarta dari Bandung mesti tahu ilmu mengenai rambu-rambu lalu-lintas. Dia mesti tahu jalan yang perlu ditempuh untuk dapat sampai di Jakarta. Dengan kata lain, dia mesti tahu dan paham SYARIAT menuju Jakarta.

Kemudian, setelah dia punya ilmu bagaimana menuju ke Jakarta, maka ketika dia mulai berjalan menuju Jakarta maka dia telah menjalani apa yang disebut TAREKAT.

Nah, tarekat ini ada yang wajib dan ada yang sunat. Yang wajib seperti sholat 5 waktu, puasa ramadhan, membayar zakat bila telah mencapai nisab, berhaji bila mampu. Ilmu tentang itu semua disebut syariat, menjalaninya disebut tarekat.

Tarekat wajib ini memang semua orang wajib untuk menjalaninya.

Tarekat sunat, seperti tarekat naqsabandiah, tarekat qadiriah, tarekat aurad muhammadiah, dll (orang sekarang menyebutnya dengan istilah tarekat saja). Dalam tarekat sunat, kita mengamalkan disiplin wirid-wirid, shalawat-shalawat tertentu yang disusun oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan Rasulullah saw dan dipimpin oleh seorang guru mursyid.

Ya namanya saja sunat, artinya ia tidak wajib. Meskipun tidak wajib, tetapi tarekat sunat ini membantu seseorang untuk istiqamah dalam beramal. Saya beri satu contoh sederhana.

Ada hadis yang menyebut bahwa Rasulullah SAW beristighfar minimal 70 kali sehari.

Dalam tarekat sunat, saya contohkan dalam tarekat Aurad Muhammadiah, seorang murid didisiplinkan oleh guru mursyidnya untuk memohon ampun 50 kali dalam setiap kali selesai sholat wajib. Artinya, dalam sehari pengamal tarekat Aurad Muhammadiah memohon ampun minimal 250 kali dalam sehari.

Bagi orang yang tidak mengamalkan tarekat sunat, tentu susah bagi dirinya untuk istiqamah dalam beristighfar minimal 70 kali sehari. Itu baru satu keuntungan dari mengamalkan tarekat sunat. Manfaat yang lain tentu banyak sekali. Mungkin saya akan bahas dalam kesempatan lain.

Tarekat terpecah menjadi 73 golongan?

Tarekat-tarekat yang haq, kesemuanya mempunyai mazab aqidah yang sama yaitu AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH. Jelas mereka bukan qadariah, bukan jabbariah, bukan muktazilah, dan lain-lain mazab aqidah. Dalam mazab fiqh pun tarekat-tarekat yang haq tadi ikut 1 dari 4 mazab fiqh yang masyur. Seperti dalam tarekat Aurad Muhammadiah, mazab fiqh Imam Syafi’i menjadi mazab yang dipegang dalam fiqh.

Posted in Tarekat | 31 Comments »

Sepatutnya Berterimakasih, tetapi….

Posted by sufipejuang pada Januari 16, 2008

Terimakasih Tuhan, Engkau bangunkan aku sekali lagi di pagi ini.

Terimakasih Tuhan, Engkau masih ijinkan mulutku untuk berdoa padaMu: “Segala Puji BagiMu Ya Allah, yang menghidupkan kami setelah Engkau matikan kami dan kepadaMu kami akan kembali”.

Terimakasih Tuhan, Engkau masih izinkan hamba berjalan menuju toilet.

Terimakasih Tuhan, Engkau masih alirkan air untukku bersuci.

Terimakasih Tuhan, bersih badanku siap untuk bermunajat padaMu.

Terimasih Tuhan, jantungku masih berdetak, nafasku masih naik dan turun.

Terimakasih Tuhan, Engkau rizkikan padaku baju, kain sarung, kopiah serta sajadah untuk menyembahmu.

Terimakasih Tuhan, atas hidayah yang Engkau limpahkan hingga aku masih suka menyembahmu dikala manusia tidur bermimpi.

Tuhan, dari aku bangun tidur hingga azan subuh bergema sepatutnya aku mengucap jutaan terimakasih padaMu. Tapi aku selalu lupa untuk berterimakasih padaMu, Ya Maulana. Sungguh, aku adalah hamba yang dzalim :(

Oh Tuhan, ketika aku belum sibuk dengan urusan dunia (bangun tidur-azan subuh) aku senantiasa lalai dari mengingatiMu. Duh, betapalah lagi nanti ketika siang hari, ketika urusan dunia sudah menyibukkanku. Betapa aku akan lebih lalai lagi padaMu.

Memang, “inni kuntu minadzalimin” (sungguh aku adalah hamba yang dzalim).

Posted in Kesadaran | 6 Comments »

Guru Mursyid dan Kecelakaan Ruhani

Posted by sufipejuang pada Januari 14, 2008

Jalan menuju Allah itu bersifat ruhaniah. Mata lahir dan akal tidak akan mampu melihat jalan ini. Yang mampu melihatnya hanyalah ruh atau hati yang bersih.

Saudaraku, sudah menjadi pengalaman kita, bahwa di jalan raya yang bersifat material banyak terjadi kecelakaan. Padahal, jalan raya yang bersifat material itu, mata lahir kita bias melihatnya.Jalan raya itu juga dilengkapi dengan berbagai rambu lalu-lintas. Tetapi kecelakaan berlaku setiap hari. Ada yang tabrakan, ada yang serempetan, ada yang masuk jurang, ada yang terguling dan berbagai macam kecelakaan bias terjadi di jalan yang begitu jelas terlihat dengan mata kepala kita.

Belajar dari pengalaman ini, tentu kita dapat dengan mudah memahami kenyataan betapa susahnya menempuh jalan ruhani (jalan menuju Cinta Agung). Berbagai macam kecelakaan ruhani menimpa kita setiap harinya.

Coba kita review kembali kecelakaan-kecelakaan ruhaniah yang menimpa kita tiap hari.

  • ada perempuan lewat, mata kita tak berkedip.
  • Di uji oleh Allah dengan kehilangan barang kesayangan, rumah terbakar, hendak menikah ternyata ditinggal kawin oleh calon suami/istri, dll maka kita pun complain dengan Allah. Kita tak puas hati dengan ketentuan Allah. “mengapa itu harus terjadi padaku?”
  • Bila mendapat nikmat, sombong, berbangga hati, tidak bersyukur.
  • Dalam majlis pertemuan resmi dengan Allah (sholat) tidak melahirkan rasa takut, tidak terasa hebatnya Allah. Tetapi bila ketemu dengan presiden tersa takut dan terasa kuasa presiden sehingga kita begitu menjaga adab bila ada pertemuan dengan Presiden.
  • Apabila berdakwah, kemudian dipuji orang maka hati pun berbunga (termasuk lah menulis blog kemudian dipuji postingannya bagus-bagus, maka hatinya berbunga-bunga)

Nah, saking seringnya kita mengalami kecelakaan ruhaniah ini, maka kita perlu pimpinan dari orang yang mampu melihat dan paham jalan ini (jalan ruhaniah menuju Allah). Orang ini disebut guru mursyid. Guru mursyid sangat diperlukan oleh setiap manusia dalam perjalanan ruhani menuju taqwa. Dia dapat memimpin di bidang ilmu, akal atau hati, lahir maupun batin dan dalam semua hal sehingga hidup manusia dapat tertuju kepada Allah. Guru mursyid Allah beri anugerahkan ilmu-ilmu yang luar biasa, ilmu lahir juga ilmu batin.

Karena pentingnya guru mursyid ini, Imam Malik pernah berkata: “Barangsiapa yang tidak mempunyai guru mursyid maka syaitanlah yang akan menjadi gurunya.”

Orang yang bisa memimpin hati/ruhani (guru mursyid), hanyalah orang yang pintu hatinya terbuka, yaitu orang yang mempunyai basyirah. Bukan sekadar akalnya yang terbuka. Banyak orang yang akalnya terbuka, hingga dapat menangkap ilmu, tetapi sangat sedikit orang yang hatinya terbuka. Mursyid itu ialah orang yang hatinya terbuka luas dan dapat memimpin orang lain.

Jadi setiap orang mesti mencari seorang guru mursyid untuk memimpin dirinya walaupun dia alim. Setelah dia bertemu dengan guru mursyid yang layak, maka lahir dan batinnya perlu diserah kepada guru mursyid itu.

 

Posted in Guru Mursyid | 91 Comments »

Mengenal Allah Dengan Hati

Posted by sufipejuang pada Januari 8, 2008

Sebenarnya yang disebut kenal Tuhan adalah kita kenal Tuhan dengan ruh atau hati. Cara cepatnya dengan mencari wasilah dengan berkat, tawasul dan doa. Orang yang tidak ada ruh dalam beribadah (ibadah tidak dihayati/ lalai), ia berdosa. Ketika mengadap Tuhan, hati ke mana-mana. Seolah-olah dalam majlis raja, buat kerja lain. Sebab itu orang yang bertaqwa, waktu dia mengadap Tuhan hatinya tersentuh, selalu merasa cemas tidak beradab dengan Tuhan.

PERBEDAAN RASA BERTUHAN DAN BERPIKIR TENTANG TUHAN

Perasaan yang dimiliki oleh manusia, seperti rasa malu, rasa jijik timbul secara otomatik dan tidak dipaksa untuk merasakannya. Perasaan itu timbul begitu saja, ketika berhadapan dengan kotoran timbul rasa jijik, ketika berhadapan dengan harimau timbul rasa takut.

Merasa adalah kerja ruh. Perasaannya bertukar berdasarkan apa yang dilihat. Kalau lihat makanan rasa ingin, kalau melihat cacing rasa jijik. Begitulah perasaan itu selalu silih berganti. Begitu jugalah dengan rasa bertuhan. Kalau kita tidak kenal Tuhan, akan sukar untuk menimbulkan rasa bertuhan. Walaupun kita memiliki ilmu tentang Tuhan berkuasa, Tuhan memberi ilmu dan lain-lain lagi, tidak terasa Tuhan itu Maha Pelindung dan Penyelamat, Maha mengetahui dan seterusnya.Tetapi kalau kita tahu Tuhan berkuasa dan memahami bagaimana kuasa Tuhan itu, barulah sedikit banyak merasakan Tuhan berkuasa. Misalnya untuk merasakan pentingnya oksigen yang telah Allah beri dalam kehidupan kita. Kita tutup hidung, tentu tak lama kita dapat bertahan.

Bila orang yang tak ada rasa takut dengan Tuhan, seperti kisah seorang ibu yang membawa anaknya masuk ke tengah hutan. Sampai di rumah dia ceritakan pada ibunya dia bertemu dengan singa, yang dia katakan cantik dan dia pun belai-belai. Begitulah keadaan seorang anak yang tidak kenal dengan harimau, dia tidak ada rasa takut. Tetapi berbeda dengan dengan ibu yang telah kenal dengan harimau, tentu akan timbul rasa takut dan bimbang dengan keselamatan anaknya ketika mendengar cerita anaknya tentang perjumpaan dengan harimau.

Jadi untuk orang yang belum ada rasa, maka disuruh untuk berpikir. Sebagai latihan kalau kita melihat ciptaan Tuhan seperti gunung, sungai, laut, burung dan lain-lain, kita cuba kaitkan dengan Tuhan. Itulah yang disebut tafakur. Bila latihan selalu dilakukan, maka satumasa akan terasa secara otomatik, seperti perasaan-perasaan yang lain.

Bedanya dengan para sasterawan yang jiwanya halus, tetapi jika tidak dikaitkan dengan Tuhan, maka bila melihat gunung yang terasa betapa hebatnya gunung. Bila melihat laut yang terasa betapa hebatnya laut. Sebab itu mereka seperti orang yang tidak siuman, asyik dengan diri sendiri. Jadi di tahap awal yang perlu dilakukan adalah berpikir tentang ciptaan Tuhan. Tetapi lama kelamaan, bila sudah kenal Tuhan maka akan datang perasaan-perasaan yang berkaitan dengan Tuhan secara otomatik, seperti rasa takut, bimbang, cemas dll.

Sebab itu orang-orang yang hatinya sudah sentiasa merasakan wujudnya Tuhan, maka akan timbul rasa mabuk.


Mata Kepala, Mata akal dan Mata hati

Dalam kita merasakan kebesaran Tuhan, mata kepala sebagai muqaddimah (pendahuluan) untuk penglihatan selanjutnya. Adanya gunung, laut, sungai dan lain-lain terlihat wujudnya dengan pandangan mata kepala. Setelah pandangan mata melihat wujudnya sesuatu, kalau mata akal kita hidup maka akan tergerak untuk berpikir. Bila akal berpikir, ertinya akal melihat, itulah akal yang hidup, akal yang jaga. Kalau hanya mata kepala melihat, hasilnya sedikit bahkan kadang tertipu, misalnya lihat gunung dari jauh cantik, hijau, padahal setelah dekat tidak seperti itu.

Apa yang dilihat oleh mata kepala, kalau akal kuat memikirkannya, maka akan mendapat ilmu. Kalau melihat benda yang hijau, akal melihat atau buat kajian. Tetapi yang lebih halus lagi, akal dapat melihat benda bukan hanya yang lahir, bahkan juga ada sistem. Itulah yang dapat dikaji oleh ahli ilmu pengetahuan (saintis). Sebab itu bila akal bertambah tajam makin banyak rahasia alam yang dia dapatkan.

Di sinilah perlunya mata hati. Kalau pikiran tidak didasarkan dengan ruh (mata hati) maka akan semakin membutakan hati. Ketika mata melihat, kemudian akal berpikir, mesti berasaskan ruh, supaya makin banyak berpikir, manusia makin terasa kehebatan Tuhan. Makin terlihat kehebatan ayat-ayat Tuhan. Bila kita sudah sering melakukan itu maka secara otomatik bila mata melihat sesuatu, hasilnya akan dapat melihat kebesaran Tuhan. Setelah itu tak perlu berpikir lagi dalam melihat kebesaran Tuhan, langsung terasa ke dalam jiwa.

Bagaimana dalam bekerja selalu ingat Allah

Kalau pengaruh kebesaran Allah sudah sangat terasa ke dalam jiwa kita maka kita berbuat apa saja selalu ingat dengan Allah. Misalnya bila kita sedang makan tiba-tiba ada harimau, apakah rasa ingin makan masih ada ? Tentu rasa takut dengan harimau lebih besar mempengaruhi jiwa kita daripada rasa ingin makan. Contoh lain, bila kita sayang dengan anak bungsu tiba-tiba dipisahkan tentu akan terkenang selalu. Begitu juga sang anak, bila ibunya di rumah sakit, walaupun dia berada di rumah tentu hatinya teringat dengan ibunya.

Kalau ingat Allah itu masih di akal, ketika kita berpikir hal lain, maka ingatan kepada Allah akan hilang. Sebab itu Allah mesti dirasakan dengan hati, sehingga walaupun akal berpikir hati selalu terkenang dengan Allah. Orang yang mabuk dengan Allah, hingga tidur pun masih terbawa rasa bertuhan. Walaupun fisiknya tidur, tapi ruhnya bekerja. Seperti seorang wali Allah, dalam tidur dia bertahlil.

Posted in Persoalan Hati, Tauhid | 9 Comments »

Susahnya Mengubah Perangai Manusia

Posted by sufipejuang pada Januari 8, 2008

Mengubah gunung lebih mudah daripada mengubah perangai manusia. Kita lihat bagaimana Freeport saja dalam waktu kurang dari 30 tahun mampu mengubah bukit menjadi lembah :). Mengubah hutan yang lebat menjadi pekan atau Bandar itu pun lebih mudah daripada mengubah tabiat seorang manusia. Mengubah laut menjadi daratan juga masih lebih mudah daripada mengubah sifat jahat manusia menjadi baik.

Dunia ini lebih mudah diubah daripada penghuninya di kalangan manusia. Kita lihat diri kita, sejak kecil kita pemarah. Sampai sekarang pun kita masih pemarah. Waktu kecil kita bakhil, sampai sekarangpun kita masih bakhil. Padahal kita tahu bakhlil itu sifat jahat. Begitulah penglaman kita mendidik diri kita dan diri orang lain di sekitar kita. Padahal, dalam waktu yang sama dunia di sekitar kita sudah berubah dengan pesatnya.

Karena itulah Allah datangkan Nabi dan Rasul untuk mendidik manusia (di zaman masih ada Nabi dan Rasul). Setelah zaman ketiadaan nabi dan Rasul, Allah utus ulama yang berwatak rasul alias ulama pewaris Nabi. Ulamam yang mewarisi segala sifat dan sikap Nabi. Akhlaknya, kepemimpinannya, keberaniannya, berhikmahnya, teladannya, semuanya mewarisi sifat-sifat Rasul.

Dari fakta sejarah dan pengalaman kita, kita bias simpulkan bahwa untuk membangun peradaban lahiriah siapa saja bisa melakukannya. Bila sarat-saratnya terpenuhi, kemajuan lahiriah di dunia kan bias dicapai. Akan tetapi, untuk membangun insaniah manusia diperlukan pemimpin yang bukan calang-calang pemimpin. Bukan sembarang pemimpin bias mengubah dan mendidik insaniah manusia. Insaniah manusia hanya mampu didik oleh pemimpin dan guru yang bertaqwa.

Posted in Kesadaran | 7 Comments »

7 Peringkat Zalim

Posted by sufipejuang pada Januari 8, 2008

“Tuhan (Allah) tidak menzalimi mereka itu (maksudnya manusia), tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (Ar Rum: 9)

Ketika berbicara mengenai zalim, maka zalim itu berperingkat-peringkat. Tulisan ini akan membahas mengenai 7 peringkat zalim yang dilakukan oleh manusia.

1. Zalim dengan Tuhan.

Zalim dengan Tuhan meripakan penzaliman peringkat tertinggi, tak ada yang lebih tinggi. Apa arti zalim dengan Tuhan? Tidak kenal Tuhan atau syirik dengan Tuhan, tidak takut dengan Tuhan, tidak cinta dengan Tuhan, tidak peduli dengan Tuhan, hidup ini tidak dihubungkan dengan Tuhan.

Setiap hari kita zalim dengan Tuhan tetapi hal ini jarang terpikir oleh kita. Hidup kita sehari-hari tidak peduli Tuhan. Padahal, dalam Al Quran Allah berfirman: “iqra bismi rabbika” Bacalah atas nama Tuhanmu.

Jadi, ketika hendak melakukan apa saja buatlah atas nama Tuhan. Berjuang, membangun, berekonomi, mendidik, berbudaya, mengurus, dll mesti atas nama Tuhan. Artinya, segala sesuatu yang kita lakukan mesti dikaitkan dengan Tuhan, mesti ada hubungan dengan Tuhan. Kalau tidak, kita telah melakukan penzaliman yang paling tinggi.

2. Zalim dengan Fisik Pemberian Tuhan

Melihat dengan mata mesti atas nama Tuhan. Mendengar, berbicara, bertindak, gunakan tangan, kaki mesti atas nama Tuhan. Artinya, tindakan fisik kita selaras dengan kehendak Tuhan. Jangan sampai mata, telinga, mulut tangan, kaki mendurhakai Tuhan. Semua gerak gerik kita jangan bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kalau berlaku kita melakukan penzaliman peringkat ke-2.

3. Zalim dengan Harta Karunia Tuhan.

Harta milik Tuhan, Tuhan bagi pada kita. Ada yang dapat sedikit, miskinlah dia. Ada pula yang mendapat banyak hingga menjadi milyader. Harta yang Tuhan bagi kepada kita janganlah digunakan sedikitpun selain karena Tuhan. Mesti selaras dengan kehendak Tuhan. Sebab yang kita miliki itu milik Tuhan. Harta itu tidak boleh kita gunakan sesuka hati, mesti ikut cara Tunan, baik disebut zakat, sedekah, . Kalau tidak kita buat penzaliman yang ke-3.

4. Zalim kepada manusia lain.

Zalim kepada manusia lain seperti: memukul, mengata, menjatuhkan, mempermalukan dimuka umum, menghina, memfitnah, mencuri. Zalim yang ada hubungannya dengan manusia lain ini yang dibesarkan setiap hari. Zalim peringkat tertinggi sepi-sepi saja. Jenis yang kedua juga tidak pernah diperbincangkan, yang ke-3 juga kurang diperkatakan oleh orang. Tetapi, yang ke-4 ini yang sering dibicarakan orang.

“Tidak sepatutnya dia memukul saya”

“Mengapa dia menebarkan fitnah mengenai saya”

Zalim jenis ini setiap hari dihebohkan. Sehingga, perkataan zalim sudah dipersempit maknanya.

5. Zalim dengan Jabatan Yang diemban.

Jabatan ada bermacam-macam. Mungkin dia Presiden, Gubernur, Menteri, Dirjen, Irjen, Kasubdit, Kabag, dll. Jabatan-jabatan ini kalau tidak diemban selaras dengan kehendak Tuhan maka dia dikatakan zalim.

Zalim dengan jabatan ini juga selalu dibesar-besarkan orang. Nampak Presiden zalim. Gubernur zalim. Yang terlihat adalah jabatan yang besar-besar. Kalau jabatan-jabatan yang dibawah, jarang disebut orang mengenai kezalimannya. Sekecil apapun jabatan, mesti selaras dengan kehendak Tuhan. Kalau tidak selaras dengan kehendak Tuhan, itulah zalim.

6. Zalim dengan ilmu.

Soal ilmu ini, ada yang dapat banyak ilmu ada pula yang dapat sedikit. Baik yang dapat banyak ilmu ataupun yang dapat sedikit ilmu, kalau ilmu tersebut digunakan bukan untuk Tuhan alias untuk epentingan diri, itulah zalim.

Di zaman ini orang banyak yang menyalahgunakan ilmu ( bahkan ILMU ISLAM ! ) bukan untuk Tuhan tapi untuk duit, kemegahan, nama, dan jabatan. Itulah zalim. Namun, tentu saja hal ini tidak pernah masuk surat kabar. Orang yang menggunakan ilmu untuk kepentingan diri tidak terfikir kalau dirinya zalim. Bahkan, saat ini orang yang megah dan sombong dengan ilmu tidak dikatakan zalim lagi. Bahkan orang menganggap dia memiliki wibawa. Sombong dengan ilmu, “hebat, orang ini memiliki ilmu”. Aneh sekali, durhaka dengan Tuhan dan hendak masuk neraka dikatakan memiliki wibawa?

7. Zalim dengan ruh/perasaan.

Hari ini, tidak ada orang yang menyebut-nyebut mengenai zalim jenis ini. Surat kabar, radio, TV juga tidak pernah menyebutkannya. Sepatutnya ruh atau perasaan kita adalah untuk Tuhan.

Hari ini apa yang orang rasa:

“aduh sakit, kapan ya sehatnya?”

“sedihnya hidup miskin dan melarat, kapan bisa kaya”

“Istriku kok tidak menyayayangiku ya?”

Perasaan sepatut diberi pada Tuhan. Tapi perasaan sudah disalahgunakan, sedih karena sakit, susah karena miskin, susah karena istri yang kurang menyayangi. Ini juga zalim. Sepatutnya perasaan sedih kita itu sedih dengan dosa-dosa kiat. Perasaan susah kita itu karena kita tidak bisa menolong orang. Itu namanya menggunakan perasaan seperti kehendak Tuhan.

Zalim ini luas sekali maknanya. Sayang, orang hanya membesarkan yang no 4. Sebab tu ada ayat Qur’an yang maknanya,

Jangan engkau campakkan diri engkau dalam kebinasaan.” (Al Baqarah : 195)

Ayat ini ditujukan ditujukan kepada orang yang tidak mendermakan harta mereka. Orang yang tidak bersedekah artinya mencampak diri dalam Neraka, itulah zalim. Orang yang tidak berkorban harta dianggap zalim. Tapi zalim yang paling top adalah orang yang tidak kenal Allah, tidak takut Allah, tidak cinta Allah.

Kalau kita bahas, zalim peringkat teratas itu ada dalam diri kita. Kalau tidak selalu, sekali sekala kita buat juga kezaliman yang paling besar ini. Kalau orang paham zalim pada Tuhan begitu luas, ia tidak akan bergaduh. Walaupun orang zalim pada dia, dia tidak nampak kezaliman orang padanya itu, karena kita sendiri zalim pada Tuhan. Namun, karana yang besar tidak nampak nampak, yang nampak yang ke-4. Kezaliman jenis ini akhirnya yang dibesar-besarkan.

Posted in Kesadaran, Persoalan Hati | 17 Comments »

Tuntutan Kalimah Syahadat

Posted by sufipejuang pada Januari 3, 2008

Kalimat Laailahaillallah merupakan tapak asas dalam ajaran Islam. Jika persoalan ini selesai, maka persoalan orang lain akan selesai pula. Kita perkatakan apakah kehendak kalimah ini.

Ucapan Laailahaillallah kalau dilihat di dalam kitab-kitab utama ada menamakan Kalimah Syahadah, Kalimah Tauhid, Kalimah Toyibah ataupun Zikir Utama.

Sebab dipanggil kalimat Laailahaillallah itu karena :

1. Merupakan Kalimah Syahadah atau kalimah peryaksian, yaitu siapa yang mengucapkan Laailahaillallah dia telah mengumumkan dirinya pada orang banyak bahwa dia orang muslim atau Islam.

2. Merupakan Kalimah Tauhid karena dalam kalimah itulah dibahas tentang Ke Esaan Zat Allah SWT.

3. Merupakan Zikir Utama karena dalam ajaran Islam itu ada bentuk zikir yang paling utama ialah kalimah Laailahaillallah. Barangsiapa yang mau masuk Islam harus menempuh pintu gerbangnya dahulu yaitu Laailahaillallah dan tidak sah dengan zikir atau lain-lain perbuatan.

4. Mengucapkan Kalimah Toyibah, kalimah yang baik karena kalau seseorang itu benar-benar mengucapnya dari hati, hati itu teguh dan dapat mencetuskan segala kebaikan kepada Allah SWT. Hati itu akan mendorong seseorang melakukan kebaikan.

Di dalam Al Quran Allah telah bandingkan kalimah Toyyibah ini dengan sebatang pohon yang akar tunjangnya kukuh di bumi membuat pohon itu teguh / kokoh. Ini sebagai isyarat dari Allah terhadap orang yang kuat imannya. Begitulah jika seseorang itu kuat imannya, bila datang ujian sebesar manapun baik ujian itu berbentuk nikmat atau penderitaan, orang begini bila diuji makin bertambah imannya. Diuji dengan nikmat, dia bersyukur kepada Allah. Bila diuji dengan penderitaan dia sabar dan redha. Itulah hasil dari kalimah Laailahaillallah, lahir dari hati seseorang.

Bagaimana dengan hati orang yang tidak dapat merasakan kalimah ini dari hati. Bila diuji dia akan tidak sabar. Kadang-kadang dapat durhaka dengan Allah dan menzalimi orang lain.

Jadi, sebatang pohon yang diibaratkan oleh Allah dengan akar tunjan yang kukuh bahkan batangnya kuat. Begitu juga dengan dahan-dahan, ranting-ranting, daun dan bunga, serta buahnya hingga menawan hati orang lain. Orang akan berteduh di bawahnya dan dapat makan buahnya pula. Ini artinya orang yang mengucap Laailahaillallah itu dari hati, dan jiwa yang sadar dan takut itu hingga dapat membangunkan segala kebaikan. Kebaikan yang dibuat bukan saja dapat manfaat bahkan orang lain juga dapat ikut merasakan. Itulah jalan yang sebaik-baiknya, seperti hadits Rasulullah SAW yang artinya :

“Sebaik-baik manusia itu dapat memberi manfaat kepada manusia lain”

Orang yang mengucapkan kalimah Laailahaillallah itu tidak lahir dari hatinya, maka dia tidak akan mampu mencetuskan kebaikan, bahkan orang lain tidak akan dapat manfaat darinya.

Sebenarnya tuntutan kalimah ini begitu banyak, sebanyak yang diminta oleh ajaran Islam. Sebanyak yang diminta oleh Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Diantaranya :

1. Siapa saja yang mengucapkan dua kalimah Laailahaillallah dari hatinya dia akan dapat membangunkan Al Quran dan Sunnah dari dalam dirinya, keluarganya, masyarakat, negara, dan alam sejagad.

Dalam satu sejarah pernah terjadi, Rasulullah SAW bersabda yang artinya “

“Barangsiapa yang berkata Laailahaillallah akan masuk Syurga”

Mendengar hadits itu Para Sahabat langsung sampaikan kepada Sahabat-Sahabat yang lain. Mereka tidak menunda-nunda untuk menyampaikannya karena mereka teringat hadits Rasulullah yang artinya :

“Sampaikan dariKu walau satu ayat”

Seorang Sahabat bila bertemu dengan Sayidina Umar dia langsung sampaikan hadits ini. Tiba-tiba dia kena tampar oleh Sayidinna Umar. Sahabat tadi agak terperanjat. Setelah mereka berfikir, siapa yang benar, siapa yang salah, akhirnya mereka berjumpa Rasulullah. Kata Rasulullah kedua-dua Sahabat ini betul. Apa buktinya ? Sahabat tadi sampai dia yakin dengan apa yang dikatakan Rasulullah itu benar. Pada Sayidina Umar pula, dia takut Sahabat tadi sampaikan hadits inni pada orang yang jahil, tidak paham tuntutan kalimah itu yang menyebabkan dia tidak buat amal lagi. Sedangkan yang lain asyik dengan zikir Laailahaillallah saja. Sebab itu awal-awal lagi Sayidina Umar tampar Sahabat tadi.

2. Tiada Tuhan yang disembah selain Allah.

Seluruh sikap dan perbuatannya hendak dijadikan ibadah dan dipersembahkan kepada Allah atau dengan kata lain hamba kepada Allah. Bukan saja pada ibadah-ibadah asas, tetapi juga pada ibadah-ibadah sunnat, sunnat muakad, sunat ghairu muakkad dan fadhoilul a’mal atau amalan utama. Bahkan perkara harus juga hendak dijadikan sebagai ibadah kepada Allah.

Ia tidak akan menjadi ibadah kalau tidak menempuh 5 syarat :

· Niat harus betul

· Pekerjaan yang dilakukan sah menurut syariat

· Pelaksanaan harus betul

· Hasilnya disalurkan ke tempat yang benar

· Jangan meninggalkan perkara yang asas

3. Tiada yang ditakutkan melainkan Allah.

Siapa yang mengucapkannya tiada lain yang dia takut melainkan Allah. Menurut keyakinan orang mukmin, yang memberi bekas adalah Allah. selainNya tidak, walau sebesar mana sekalipun kuasanya. Firman Allah SWT yang artinya :

“Jangan kamu takut cercaan orang yang mencerca”

[Q.S. Al Maidah : 54]

Benarkah kita meletakkan Allah yang kita takut, selainNya tidak ? Kalau kita nilai sikap kita ini, banyak yang kita takut selain dari Allah. Contoh, kalau kita sedang bekerja, tiba-tiba datang dua perintah :

Perintah tuan

Perintah Tuhan

Bila masuk waktu shalat, manakah yang hendak kita dahulukan, selesaikan kerja atau shalat ???

4. Tiada yang dicinta melainkan Allah.

Sabda Rasulullah SAW yang artinya :

“Tidak beriman seorang kamu sehingga dia menjadikan Allah dan RasulNya paling dicintai dibandingkan selain daripadanya”

Jadi, Allah dan Rasul saja yang dia cinta. Kalaupun dia cinta keluarga, anak, isteri, harta dan sebagainya tidak sampai mengatasi cintanya kepada Allah dan Rasul. Sejauh manakah cinta kita kepada Allah selama ini ? Bagaimana kalau tengah kita tidur di waktu malam, tiba-tiba ayam yang kita sayang dicuri orang ? Berbanding dengan sengaja hendak bangun tahajud di tengah malam karena tanda cinta kita kepada Allah.

5. Tiada yang dia redho melainkan Allah.

Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

“Aku redho Allah sebagai Tuhan”

Allah saja yang dia redho sebagai Tuhan.

Apa tanda kita redho Allah sebagai Tuhan ??? Kalau sekedar mengaku di mulut saja kita ini redha Allah sebagai Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Orang kafir pun mengaku juga Allah sebagai Tuhan, tetapi mereka tidak redho Allah itu sebagai Tuhan. Firman Allah SWT yang artinya :

“Sesungguhnya jika kamu (Muhammad) tanya kepada orang kafir itu, siapa yang menjadikan langit dan bumi, niscaya mereka menjawab “Allah”.

Orang yang redho dengan Allah, walau apa Allah buat padanya, dia tetap mengaku Allah itu sebagai Tuhan walau apa yang dihajatinya tidak dapat.

6. Tiada tempat yang dia tawakal kecuali Allah.

Allah lah tenpat dia menyerah diri, sesuai dengan ucapat Rasulullah SAW yang artinya :

“Kepada Engkau kami bertawakal”

Tawakal itu ada 4 :

· Tawakal pada diri

· Tawakal pada harta

· Tawakal pada orang

· Tawakal pada Allah

· Tawakal pada diri

Kita yakin kepada diri dapat berusaha untuk beri rezeki sebab badan masih kuat. Dia lupa Allah yang memberi kuasa, Allah yang memberi rezeki.

· Tawakal pada harta

Dia tidak bimbang karena sudah ada rumah sewa lima buahl. Dia tidak bimbang dengan rezeki. Hatinya yakin pada harta, bukan pada Allah. Inilah yang dikatakan Syirik Kahfi.

· Tawakal pada orang

Dia yakin selagi orang itu beri bantuan padanya, dia tidak bimbang dengan rezeki. Sudah ada jaminan hidup diri dan keluarga.

· Tawakal kepada Allah

Dia tidak peduli orang bantu atau tidak, ada kerja atau tidak, dia tetap bertawakal pada Allah, bersandar pada Allah, menyerah diri pada Allah. Dia yakinn Allah saja yang memberi bekas. Inilah tawakal orang mukmin sejati.

7. Tidak ada hukuman kecuali Allah.

Tidak ada undang-undang kecuali undang-undang Allah. Dia akan terima hukuman, undang-undang dari Allah saja untuk dirinya, keluarga, masyarakat, negara dan alam sejagad.

Jadi siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum dari Allah, baik dirinya, keluarganya, masyarakatnya, ekonomi, negara dan alam sejagad dan lain-lain. Coba kita lihat firman Allah yang artinya :

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia akan jatuh kafir”.

[ Q.S. Al Maidah : 44 ]

Firman Allah yang lain :

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah dia akan jatuh zalim”.

[ Q.S. Al Maidah : 45 ]

Firman Allah yang lain :

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah dia akan jatuh fasik”.

[ Q.S. Al Maidah : 47 ]

Itu merupakan sebagian kecil saja tuntutan kalimah. Sebenarnya ada banya, sebanyak yang diminta ajaran Islam.

Jadi barangsiapa yang mengucapkan Laailahaillallah, jika kita melaksanakan tuntutannya berarti kita telah melakukan “Amru bil Ma’ruf wanahyu Anil Munkar”, mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Berjuang dan berjihad menegakkan Al Quran dan Sunnah dalam diri, keluarga, masyarakat, seterusnya negara dan alam sejagad.

Posted in Tauhid | 4 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.