SUFI PEJUANG

Berjuang Menggapai Cinta Hakiki

Perlukah Bertarekat?

Ditulis oleh sufipejuang di/pada Januari 29, 2008

mac Berkata:

orang harus bertarekat dunk??

padahal tarekat2 sdh termasuk dari golongan2 orang islam yg diisyaratkan nabi orang islam terpecah menjadi 73 golongan ,dan hanya satu yg selamat ahlussunnah wal jamaah, bisa kasih pencerahan mas?

Saya akan coba jawab pertanyaan ini. Semoga dengan berkat dan karomah guru saya, saya dapat memberikan penjelasan yang mudah dipahami.

Haruskah bertarekat?

Ya, setiap orang perlu bertarekat.

Mengapa?

Tarekat berasal dari kata ‘thariqah’ yang artinya ‘jalan’. Jalan yang dimaksud di sini adalah jalan untuk menjadi orang bertaqwa, menjadi orang yang diredhoi Allah s.w.t. Secara praktisnya tarekat adalah kumpulan amalan-amalan lahir dan batin yang bertujuan untuk membawa seseorang untuk menjadi orang bertaqwa.

Seperti yang sudah saya jelaskan dalam tulisan yang berjudul : Hidup Menurut Aturan Allah, manusia perlu menjalani Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat.

Syariat adalah peraturan lahir dan batin atau hukum Allah yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an dan dijelaskan oleh hadis Rasulullah SAW. Hukum Syariat terdiri dari lima hukum, yaitu wajib, sunat, haram, makruh dan mubah.

Untuk mudah dipahami, dapat kita kiaskan seperti orang yang hendak berjalan dari Bandung menuju Jakarta.

Peraturan, peta, dan segala ilmu mengenai bagaimana menuju Jakarta itu adalah SYARIAT.

Kemudian menjalani perjalanan dari Bandung ke Jakarta itu adalah TAREKAT.

Orang yang hendak ke Jakarta dari Bandung mesti tahu ilmu mengenai rambu-rambu lalu-lintas. Dia mesti tahu jalan yang perlu ditempuh untuk dapat sampai di Jakarta. Dengan kata lain, dia mesti tahu dan paham SYARIAT menuju Jakarta.

Kemudian, setelah dia punya ilmu bagaimana menuju ke Jakarta, maka ketika dia mulai berjalan menuju Jakarta maka dia telah menjalani apa yang disebut TAREKAT.

Nah, tarekat ini ada yang wajib dan ada yang sunat. Yang wajib seperti sholat 5 waktu, puasa ramadhan, membayar zakat bila telah mencapai nisab, berhaji bila mampu. Ilmu tentang itu semua disebut syariat, menjalaninya disebut tarekat.

Tarekat wajib ini memang semua orang wajib untuk menjalaninya.

Tarekat sunat, seperti tarekat naqsabandiah, tarekat qadiriah, tarekat aurad muhammadiah, dll (orang sekarang menyebutnya dengan istilah tarekat saja). Dalam tarekat sunat, kita mengamalkan disiplin wirid-wirid, shalawat-shalawat tertentu yang disusun oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan Rasulullah saw dan dipimpin oleh seorang guru mursyid.

Ya namanya saja sunat, artinya ia tidak wajib. Meskipun tidak wajib, tetapi tarekat sunat ini membantu seseorang untuk istiqamah dalam beramal. Saya beri satu contoh sederhana.

Ada hadis yang menyebut bahwa Rasulullah SAW beristighfar minimal 70 kali sehari.

Dalam tarekat sunat, saya contohkan dalam tarekat Aurad Muhammadiah, seorang murid didisiplinkan oleh guru mursyidnya untuk memohon ampun 50 kali dalam setiap kali selesai sholat wajib. Artinya, dalam sehari pengamal tarekat Aurad Muhammadiah memohon ampun minimal 250 kali dalam sehari.

Bagi orang yang tidak mengamalkan tarekat sunat, tentu susah bagi dirinya untuk istiqamah dalam beristighfar minimal 70 kali sehari. Itu baru satu keuntungan dari mengamalkan tarekat sunat. Manfaat yang lain tentu banyak sekali. Mungkin saya akan bahas dalam kesempatan lain.

Tarekat terpecah menjadi 73 golongan?

Tarekat-tarekat yang haq, kesemuanya mempunyai mazab aqidah yang sama yaitu AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH. Jelas mereka bukan qadariah, bukan jabbariah, bukan muktazilah, dan lain-lain mazab aqidah. Dalam mazab fiqh pun tarekat-tarekat yang haq tadi ikut 1 dari 4 mazab fiqh yang masyur. Seperti dalam tarekat Aurad Muhammadiah, mazab fiqh Imam Syafi’i menjadi mazab yang dipegang dalam fiqh.

10 Tanggapan ke “Perlukah Bertarekat?”

  1. Ansori berkata

    banyak space kosong mas… masih bersambung yah…???

  2. sufipejuang berkata

    Masih bersambung sih nggak juga.
    Saya bingung aja kok bisa jadi kayak gitu ya. He..he…memang masih pemula di wordpress :D

  3. Ansori berkata

    smpyn tekan ENTER nya kebanyakan kayaknya. saran saya coba di edit lagi, tekan panah bawah di keyborad sampe mentok (atau tekan CTRL+END) trs tekan bakspace sampe ke kata terakhir. smg membantu

    he..he..he…amat sangat membantu :D makasih banyak

  4. tkarso berkata

    Suatu saat saya benyak belajar mengenai tarekat dari buku dan guru-guru tetapi secara teori dan saya tidak melaksanakannya, setelah suatu waktu saya secara misterius diberi tahu bahwa kalau mau bertarekat ya ikuti apa yang dikerjakan nabi Muhammad semasa hidupnya , jangan lebih dan jangan kurang disesuaikan konteks sekarang, cuma secara inti dari semua yang dikerjakan Nabi harus dicari tujuannya…………nah pertanyaan saya apa bisa tarekat ini yang saya kerjakan ? pokoknya jangan lepas dari ajaran nabi ya.

    #semua tarekat yang haq datangnya adalah dari Nabi Muhammad SAW. Mereka mempunyai salasilah (mata rantai) ajaran yang nyambung kepada RAsulullah SAW.

  5. penyejukmata berkata

    73 golongan yang dimaksud dalam “orang islam terpecah menjadi 73 golongan” adalah golongan aqidah (keyakinan). Selama orang yang bertarekat tersebut masih dalam aqidah yang benar, maka orang tersebut akan termasuk dalam golongan yang selamat di akhirat.

  6. http://www.ismulhaq.com

  7. sufipejuang berkata

    assaalamualaikum Mas Permata,

    Senang dapat kunjungan dari murid tareqat Sufi Qadiriah.

  8. sufimuda berkata

    Nah, tarekat ini ada yang wajib dan ada yang sunat. Yang wajib seperti sholat 5 waktu, puasa ramadhan, membayar zakat bila telah mencapai nisab, berhaji bila mampu. Ilmu tentang itu semua disebut syariat, menjalaninya disebut tarekat

    bagus artikelnya, tapi penjelasan tentang tharekat kok terkesan mengambang ya, kurang fokus, masak ada tharekat sunnat dan wajib mungkin sumbernya dari kalangan orientalis atau para pengamal tasawuf filsafati (ber tasawuf tapi gak masuk tharekat).

    Thareqat itu mesti ada Mursyid, jadi mengikuti salah satu tharekat (naqsyabandi, qadiriah, samaniyah, dll) hukumnya itu WAJIB, kenapa? karena mempunyai seorang MURSYID itu hukumnya wajib bukan sunnat, “Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalam hidupnya) seorang wali yang mursyid” (Al-kahfi: 17).
    Yang gak ketemu dengan MURSYID udah pasti sesat donk, kan jelas…
    “hai orang2 beriman carilah WASILAH (Frekwensi yang mengantarkan orang langsung kepada ALLAH), bersungguh-sungguhnya dijalannya, pastilah menang, (Al-Maidah 35).

    silahkan mencari MURSYID yang kamil mukamil khalis mukhlisin, tanpa seorang MURSYID udah pasti tidak akan ketemu dengan Rasulullah dan Allah.
    kurang puas dengan komentar ini silahkan singgah di pedepokan sufimuda, http://sufimuda.wordpress.com

    Salam kenal..

  9. Admin berkata

    ismulhaq.com

  10. [...] Perlukah Bertarekat? [...]

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>