SUFI PEJUANG

Berjuang Menggapai Cinta Hakiki

Arsip untuk ‘Persoalan Hati’ Kategori

Mengenal Allah Dengan Hati

Ditulis oleh sufipejuang di/pada Januari 8, 2008

Sebenarnya yang disebut kenal Tuhan adalah kita kenal Tuhan dengan ruh atau hati. Cara cepatnya dengan mencari wasilah dengan berkat, tawasul dan doa. Orang yang tidak ada ruh dalam beribadah (ibadah tidak dihayati/ lalai), ia berdosa. Ketika mengadap Tuhan, hati ke mana-mana. Seolah-olah dalam majlis raja, buat kerja lain. Sebab itu orang yang bertaqwa, waktu dia mengadap Tuhan hatinya tersentuh, selalu merasa cemas tidak beradab dengan Tuhan.

PERBEDAAN RASA BERTUHAN DAN BERPIKIR TENTANG TUHAN

Perasaan yang dimiliki oleh manusia, seperti rasa malu, rasa jijik timbul secara otomatik dan tidak dipaksa untuk merasakannya. Perasaan itu timbul begitu saja, ketika berhadapan dengan kotoran timbul rasa jijik, ketika berhadapan dengan harimau timbul rasa takut.

Merasa adalah kerja ruh. Perasaannya bertukar berdasarkan apa yang dilihat. Kalau lihat makanan rasa ingin, kalau melihat cacing rasa jijik. Begitulah perasaan itu selalu silih berganti. Begitu jugalah dengan rasa bertuhan. Kalau kita tidak kenal Tuhan, akan sukar untuk menimbulkan rasa bertuhan. Walaupun kita memiliki ilmu tentang Tuhan berkuasa, Tuhan memberi ilmu dan lain-lain lagi, tidak terasa Tuhan itu Maha Pelindung dan Penyelamat, Maha mengetahui dan seterusnya.Tetapi kalau kita tahu Tuhan berkuasa dan memahami bagaimana kuasa Tuhan itu, barulah sedikit banyak merasakan Tuhan berkuasa. Misalnya untuk merasakan pentingnya oksigen yang telah Allah beri dalam kehidupan kita. Kita tutup hidung, tentu tak lama kita dapat bertahan.

Bila orang yang tak ada rasa takut dengan Tuhan, seperti kisah seorang ibu yang membawa anaknya masuk ke tengah hutan. Sampai di rumah dia ceritakan pada ibunya dia bertemu dengan singa, yang dia katakan cantik dan dia pun belai-belai. Begitulah keadaan seorang anak yang tidak kenal dengan harimau, dia tidak ada rasa takut. Tetapi berbeda dengan dengan ibu yang telah kenal dengan harimau, tentu akan timbul rasa takut dan bimbang dengan keselamatan anaknya ketika mendengar cerita anaknya tentang perjumpaan dengan harimau.

Jadi untuk orang yang belum ada rasa, maka disuruh untuk berpikir. Sebagai latihan kalau kita melihat ciptaan Tuhan seperti gunung, sungai, laut, burung dan lain-lain, kita cuba kaitkan dengan Tuhan. Itulah yang disebut tafakur. Bila latihan selalu dilakukan, maka satumasa akan terasa secara otomatik, seperti perasaan-perasaan yang lain.

Bedanya dengan para sasterawan yang jiwanya halus, tetapi jika tidak dikaitkan dengan Tuhan, maka bila melihat gunung yang terasa betapa hebatnya gunung. Bila melihat laut yang terasa betapa hebatnya laut. Sebab itu mereka seperti orang yang tidak siuman, asyik dengan diri sendiri. Jadi di tahap awal yang perlu dilakukan adalah berpikir tentang ciptaan Tuhan. Tetapi lama kelamaan, bila sudah kenal Tuhan maka akan datang perasaan-perasaan yang berkaitan dengan Tuhan secara otomatik, seperti rasa takut, bimbang, cemas dll.

Sebab itu orang-orang yang hatinya sudah sentiasa merasakan wujudnya Tuhan, maka akan timbul rasa mabuk.


Mata Kepala, Mata akal dan Mata hati

Dalam kita merasakan kebesaran Tuhan, mata kepala sebagai muqaddimah (pendahuluan) untuk penglihatan selanjutnya. Adanya gunung, laut, sungai dan lain-lain terlihat wujudnya dengan pandangan mata kepala. Setelah pandangan mata melihat wujudnya sesuatu, kalau mata akal kita hidup maka akan tergerak untuk berpikir. Bila akal berpikir, ertinya akal melihat, itulah akal yang hidup, akal yang jaga. Kalau hanya mata kepala melihat, hasilnya sedikit bahkan kadang tertipu, misalnya lihat gunung dari jauh cantik, hijau, padahal setelah dekat tidak seperti itu.

Apa yang dilihat oleh mata kepala, kalau akal kuat memikirkannya, maka akan mendapat ilmu. Kalau melihat benda yang hijau, akal melihat atau buat kajian. Tetapi yang lebih halus lagi, akal dapat melihat benda bukan hanya yang lahir, bahkan juga ada sistem. Itulah yang dapat dikaji oleh ahli ilmu pengetahuan (saintis). Sebab itu bila akal bertambah tajam makin banyak rahasia alam yang dia dapatkan.

Di sinilah perlunya mata hati. Kalau pikiran tidak didasarkan dengan ruh (mata hati) maka akan semakin membutakan hati. Ketika mata melihat, kemudian akal berpikir, mesti berasaskan ruh, supaya makin banyak berpikir, manusia makin terasa kehebatan Tuhan. Makin terlihat kehebatan ayat-ayat Tuhan. Bila kita sudah sering melakukan itu maka secara otomatik bila mata melihat sesuatu, hasilnya akan dapat melihat kebesaran Tuhan. Setelah itu tak perlu berpikir lagi dalam melihat kebesaran Tuhan, langsung terasa ke dalam jiwa.

Bagaimana dalam bekerja selalu ingat Allah

Kalau pengaruh kebesaran Allah sudah sangat terasa ke dalam jiwa kita maka kita berbuat apa saja selalu ingat dengan Allah. Misalnya bila kita sedang makan tiba-tiba ada harimau, apakah rasa ingin makan masih ada ? Tentu rasa takut dengan harimau lebih besar mempengaruhi jiwa kita daripada rasa ingin makan. Contoh lain, bila kita sayang dengan anak bungsu tiba-tiba dipisahkan tentu akan terkenang selalu. Begitu juga sang anak, bila ibunya di rumah sakit, walaupun dia berada di rumah tentu hatinya teringat dengan ibunya.

Kalau ingat Allah itu masih di akal, ketika kita berpikir hal lain, maka ingatan kepada Allah akan hilang. Sebab itu Allah mesti dirasakan dengan hati, sehingga walaupun akal berpikir hati selalu terkenang dengan Allah. Orang yang mabuk dengan Allah, hingga tidur pun masih terbawa rasa bertuhan. Walaupun fisiknya tidur, tapi ruhnya bekerja. Seperti seorang wali Allah, dalam tidur dia bertahlil.

Ditulis dalam Persoalan Hati, Tauhid | 3 Komentar »

7 Peringkat Zalim

Ditulis oleh sufipejuang di/pada Januari 8, 2008

“Tuhan (Allah) tidak menzalimi mereka itu (maksudnya manusia), tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (Ar Rum: 9)

Ketika berbicara mengenai zalim, maka zalim itu berperingkat-peringkat. Tulisan ini akan membahas mengenai 7 peringkat zalim yang dilakukan oleh manusia.

1. Zalim dengan Tuhan.

Zalim dengan Tuhan meripakan penzaliman peringkat tertinggi, tak ada yang lebih tinggi. Apa arti zalim dengan Tuhan? Tidak kenal Tuhan atau syirik dengan Tuhan, tidak takut dengan Tuhan, tidak cinta dengan Tuhan, tidak peduli dengan Tuhan, hidup ini tidak dihubungkan dengan Tuhan.

Setiap hari kita zalim dengan Tuhan tetapi hal ini jarang terpikir oleh kita. Hidup kita sehari-hari tidak peduli Tuhan. Padahal, dalam Al Quran Allah berfirman: “iqra bismi rabbika” Bacalah atas nama Tuhanmu.

Jadi, ketika hendak melakukan apa saja buatlah atas nama Tuhan. Berjuang, membangun, berekonomi, mendidik, berbudaya, mengurus, dll mesti atas nama Tuhan. Artinya, segala sesuatu yang kita lakukan mesti dikaitkan dengan Tuhan, mesti ada hubungan dengan Tuhan. Kalau tidak, kita telah melakukan penzaliman yang paling tinggi.

2. Zalim dengan Fisik Pemberian Tuhan

Melihat dengan mata mesti atas nama Tuhan. Mendengar, berbicara, bertindak, gunakan tangan, kaki mesti atas nama Tuhan. Artinya, tindakan fisik kita selaras dengan kehendak Tuhan. Jangan sampai mata, telinga, mulut tangan, kaki mendurhakai Tuhan. Semua gerak gerik kita jangan bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kalau berlaku kita melakukan penzaliman peringkat ke-2.

3. Zalim dengan Harta Karunia Tuhan.

Harta milik Tuhan, Tuhan bagi pada kita. Ada yang dapat sedikit, miskinlah dia. Ada pula yang mendapat banyak hingga menjadi milyader. Harta yang Tuhan bagi kepada kita janganlah digunakan sedikitpun selain karena Tuhan. Mesti selaras dengan kehendak Tuhan. Sebab yang kita miliki itu milik Tuhan. Harta itu tidak boleh kita gunakan sesuka hati, mesti ikut cara Tunan, baik disebut zakat, sedekah, . Kalau tidak kita buat penzaliman yang ke-3.

4. Zalim kepada manusia lain.

Zalim kepada manusia lain seperti: memukul, mengata, menjatuhkan, mempermalukan dimuka umum, menghina, memfitnah, mencuri. Zalim yang ada hubungannya dengan manusia lain ini yang dibesarkan setiap hari. Zalim peringkat tertinggi sepi-sepi saja. Jenis yang kedua juga tidak pernah diperbincangkan, yang ke-3 juga kurang diperkatakan oleh orang. Tetapi, yang ke-4 ini yang sering dibicarakan orang.

“Tidak sepatutnya dia memukul saya”

“Mengapa dia menebarkan fitnah mengenai saya”

Zalim jenis ini setiap hari dihebohkan. Sehingga, perkataan zalim sudah dipersempit maknanya.

5. Zalim dengan Jabatan Yang diemban.

Jabatan ada bermacam-macam. Mungkin dia Presiden, Gubernur, Menteri, Dirjen, Irjen, Kasubdit, Kabag, dll. Jabatan-jabatan ini kalau tidak diemban selaras dengan kehendak Tuhan maka dia dikatakan zalim.

Zalim dengan jabatan ini juga selalu dibesar-besarkan orang. Nampak Presiden zalim. Gubernur zalim. Yang terlihat adalah jabatan yang besar-besar. Kalau jabatan-jabatan yang dibawah, jarang disebut orang mengenai kezalimannya. Sekecil apapun jabatan, mesti selaras dengan kehendak Tuhan. Kalau tidak selaras dengan kehendak Tuhan, itulah zalim.

6. Zalim dengan ilmu.

Soal ilmu ini, ada yang dapat banyak ilmu ada pula yang dapat sedikit. Baik yang dapat banyak ilmu ataupun yang dapat sedikit ilmu, kalau ilmu tersebut digunakan bukan untuk Tuhan alias untuk epentingan diri, itulah zalim.

Di zaman ini orang banyak yang menyalahgunakan ilmu ( bahkan ILMU ISLAM ! ) bukan untuk Tuhan tapi untuk duit, kemegahan, nama, dan jabatan. Itulah zalim. Namun, tentu saja hal ini tidak pernah masuk surat kabar. Orang yang menggunakan ilmu untuk kepentingan diri tidak terfikir kalau dirinya zalim. Bahkan, saat ini orang yang megah dan sombong dengan ilmu tidak dikatakan zalim lagi. Bahkan orang menganggap dia memiliki wibawa. Sombong dengan ilmu, “hebat, orang ini memiliki ilmu”. Aneh sekali, durhaka dengan Tuhan dan hendak masuk neraka dikatakan memiliki wibawa?

7. Zalim dengan ruh/perasaan.

Hari ini, tidak ada orang yang menyebut-nyebut mengenai zalim jenis ini. Surat kabar, radio, TV juga tidak pernah menyebutkannya. Sepatutnya ruh atau perasaan kita adalah untuk Tuhan.

Hari ini apa yang orang rasa:

“aduh sakit, kapan ya sehatnya?”

“sedihnya hidup miskin dan melarat, kapan bisa kaya”

“Istriku kok tidak menyayayangiku ya?”

Perasaan sepatut diberi pada Tuhan. Tapi perasaan sudah disalahgunakan, sedih karena sakit, susah karena miskin, susah karena istri yang kurang menyayangi. Ini juga zalim. Sepatutnya perasaan sedih kita itu sedih dengan dosa-dosa kiat. Perasaan susah kita itu karena kita tidak bisa menolong orang. Itu namanya menggunakan perasaan seperti kehendak Tuhan.

Zalim ini luas sekali maknanya. Sayang, orang hanya membesarkan yang no 4. Sebab tu ada ayat Qur’an yang maknanya,

Jangan engkau campakkan diri engkau dalam kebinasaan.” (Al Baqarah : 195)

Ayat ini ditujukan ditujukan kepada orang yang tidak mendermakan harta mereka. Orang yang tidak bersedekah artinya mencampak diri dalam Neraka, itulah zalim. Orang yang tidak berkorban harta dianggap zalim. Tapi zalim yang paling top adalah orang yang tidak kenal Allah, tidak takut Allah, tidak cinta Allah.

Kalau kita bahas, zalim peringkat teratas itu ada dalam diri kita. Kalau tidak selalu, sekali sekala kita buat juga kezaliman yang paling besar ini. Kalau orang paham zalim pada Tuhan begitu luas, ia tidak akan bergaduh. Walaupun orang zalim pada dia, dia tidak nampak kezaliman orang padanya itu, karena kita sendiri zalim pada Tuhan. Namun, karana yang besar tidak nampak nampak, yang nampak yang ke-4. Kezaliman jenis ini akhirnya yang dibesar-besarkan.

Ditulis dalam Kesadaran, Persoalan Hati | 5 Komentar »

Akibat Tiada Didikan Ruhani

Ditulis oleh sufipejuang di/pada Desember 31, 2007

Apa jadinya kalau sedari kecil manusia tidak didik ruhaniahnya? Apa jadinya kalau sedari kecil dia hanya diberi ilmu mengenai syariat yang lahir saja? Dia hanya diberi ilmu mengenai tata cara shalat, tata cara puasa, tata cara bersuci, dan berbagai macam syariat yang lahiriah sedangkan dia tidak dididik mengenai syariat yang batiniah seperti merendah diri, jujur, amanah, bersangka baik dan sebagainya.

Kalau seperti itu, dia akan lebih mengenal orang lain daripada dirinya sendiri. Kejahatan orang lain akan terlihat lebih jelas di matanya dibandingkan kejahatannya sendiri. Dia mampu melihat dan menila kesombongan dan ego orang lain. Namun, pada waktu yang sama dia tidak mampu melihat kesombongan dan ego dirinya sendiri yang lebih besar. Semut di seberang Nampak gajah dipelupuk mata tak Nampak, begitu kata peribahasa.

Dia memandang jahat kepada orang lain yang tidak membantunya ketika dia sedang mengalami kesusahan. Padahal diatidak pernah membantu kesusahan ornag lain. Dia tersinggung apabila ada orang lain yang mementingkan dirinya sendiri sedangkan dia tidak sadar kalau mementingkan diri sendiri sudah menjadi budaya hidupnya.

Dia merasa tak sepatutnya orang lain itu bakhil sedangkan kalau dirinya sendiri yang bakhil itu tidak mengapa. Orang lain tidak sabaran dia mampu melihatnya dengan jelas, tetapi dirinya sendiri yang tidak sabaran dia tidak mampu memahaminya.

Itulah akibat dari kesalahan mendidik manusia dari kecil. Persoalan ruhaniah atau persoalan hati yang berkaitan dengn asifat mazmumah (sifat jahat) dan sifat mahmudah (sifat baik) tidak pernah dikenalnya. Kalaupun diajarkan mengenai agama Islam, itu hanya menekankan persoalan-persoalan lahiriah semata. Akibatnya dia tidak mampu mengenal dirinya sendiri. Tidak kenal diri artinya dia tidak dapat menilai diri. Maka dia hanya akan melihat kejahatan orang lain sedangkan kejahatannya sendiri tidak mampu dikenalinya. Karena itulah, orang yang seperti ini selalu saja menudingkan jarinya kepada orang lain. Dirinya terkecuali dari kesalahan itu. Begitu banyak manusia bersikap seperti ini di akhir zaman ini.

Ditulis dalam Kesadaran, Persoalan Hati | 4 Komentar »