Akibat Tiada Didikan Ruhani

Apa jadinya kalau sedari kecil manusia tidak didik ruhaniahnya? Apa jadinya kalau sedari kecil dia hanya diberi ilmu mengenai syariat yang lahir saja? Dia hanya diberi ilmu mengenai tata cara shalat, tata cara puasa, tata cara bersuci, dan berbagai macam syariat yang lahiriah sedangkan dia tidak dididik mengenai syariat yang batiniah seperti merendah diri, jujur, amanah, bersangka baik dan sebagainya.

Kalau seperti itu, dia akan lebih mengenal orang lain daripada dirinya sendiri. Kejahatan orang lain akan terlihat lebih jelas di matanya dibandingkan kejahatannya sendiri. Dia mampu melihat dan menila kesombongan dan ego orang lain. Namun, pada waktu yang sama dia tidak mampu melihat kesombongan dan ego dirinya sendiri yang lebih besar. Semut di seberang Nampak gajah dipelupuk mata tak Nampak, begitu kata peribahasa.

Dia memandang jahat kepada orang lain yang tidak membantunya ketika dia sedang mengalami kesusahan. Padahal diatidak pernah membantu kesusahan ornag lain. Dia tersinggung apabila ada orang lain yang mementingkan dirinya sendiri sedangkan dia tidak sadar kalau mementingkan diri sendiri sudah menjadi budaya hidupnya.

Dia merasa tak sepatutnya orang lain itu bakhil sedangkan kalau dirinya sendiri yang bakhil itu tidak mengapa. Orang lain tidak sabaran dia mampu melihatnya dengan jelas, tetapi dirinya sendiri yang tidak sabaran dia tidak mampu memahaminya.

Itulah akibat dari kesalahan mendidik manusia dari kecil. Persoalan ruhaniah atau persoalan hati yang berkaitan dengn asifat mazmumah (sifat jahat) dan sifat mahmudah (sifat baik) tidak pernah dikenalnya. Kalaupun diajarkan mengenai agama Islam, itu hanya menekankan persoalan-persoalan lahiriah semata. Akibatnya dia tidak mampu mengenal dirinya sendiri. Tidak kenal diri artinya dia tidak dapat menilai diri. Maka dia hanya akan melihat kejahatan orang lain sedangkan kejahatannya sendiri tidak mampu dikenalinya. Karena itulah, orang yang seperti ini selalu saja menudingkan jarinya kepada orang lain. Dirinya terkecuali dari kesalahan itu. Begitu banyak manusia bersikap seperti ini di akhir zaman ini.

Iklan

Hidup Menurut Aturan Allah

Manusia hidup menjejakkan kaki di bumi dan beratapkan langit Allah. Manusia makan dari tumbuhan dan binatang ternak yang Allah ciptakan. Manusia minum dari air ciptaan Allah. Bernafas pun udara ciptaan Allah juga. Itulah hakikat kehidupan manusia di dunia ini. Pertanyaannya, mengapa manusia tidak mau hidup menurut aturan yang telah Allah tentukan? Bayangkan ada seorang yang menggunakan peralatan elektronik atau mesin tidak sesuai prosedur pemakaian yang telah ditetapkan oleh pabrik pembuatnya. Tentu kerusakanlah jawabannya.

Allah berfirman:

“Lahirlah kerusakan di lautan dan di daratan akibat dari tangan-tangan manusia”

[Q.S. Ar Rum : 41]

Kerusakan di laut dan di darat telah kita rasakan bersama akibat manusia-manusia yang hidup dimuka bumi ciptaan Allah ini tetapi tidak mau mengikuti aturan Allah. Manusia-manusia seperti ini Allah cap dengan gelaran kafir atau dzalim atau fasik, sebagaimana firman Allah:

“Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum dari Allah maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir”

[Q.S. Al Maidah : 44]

“Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum dari Allah maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang zalim”

[Q.S. Al Maidah : 45]

“Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum dari Allah maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang fasiq”

[Q.S. Al Maidah : 46]

Supaya manusia bias hidup di dunia ini seperti yang dikehendaki Allah (sesuai Al Quran dan As Sunnah) maka manusia perlu menjalani Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat.

Syariat

Syariat adalah peraturan lahir dan batin atau hukum Allah yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an dan dijelaskan oleh hadis Rasulullah SAW. Hukum Syariat terdiri dari lima hukum, yaitu wajib, sunat, haram, makruh dan mubah.

Syariat Allah yang terdiri dari lima hukum itu, kalau membahas mengenai persoalan keyakinan dan aqidah, disebut tauhid. Bila membahas persoalan lahiriah seperti berpakaian, perdagangan, tatacara shalat disebut fiqih. Kalau syariat itu kalau membahas mengenai persoalan hati, nafsu, batin atau rohani disebut tasawuf.

Tauhid, fiqih dan tasawuf tidak dapat dipisahkan, ketiganya harus dipelajari, difahami dan diamalkan, misalnya dalam shalat, ketiganya harus diamalkan secara serentak.

Fiqihnya : Berdiri, rukuk, sujud dalam setiap bacaan dan perbuatan dalam shalat

Tauhidnya : Yakin dengan Allah Yang Maha Melihat

Tasawufnya : Khusyuk, faham setiap bacaan dan rasa tadharuk dengan Allah.

Ketiganya tidak dapat dipisahkan, Imam Malik r.a berkata :

“Barang siapa yang semata-mata berfiqih tetapi tidak bertasawuf, dia akan jatuh fasiq. Barang siapa yang bertasawuf tetapi tidak berfiqih, dia akan jatuh zindiq (kafir)”.

Tarekat

Tarekat artinya jalan.

Tarekat terbagi dua :

Tarekat wajib yaitu syariat yang berbentuk teori kemudian diamalkan sungguh-sungguh. Contoh: bertarekat dalam shalat maknanya kita belajar ilmu tentang shalat kemudian melaksanakan shalat seperti yang kita pelajari.

Tarikat sunat. Seperti tarekat Alawiyah, Satariah, Qadariah, Naqsabandiyah, Muhammadiyah dan lain-lain, yaitu kita mengamalkan disiplin wirid-wirid, shalawat-shalawat tertentu yang disusun oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan Rasulullah saw.

Tarekat wajib, memang wajib bagi setiap orang untuk mengamalkannya. Tarekat sunat banyak diamalkan oleh orang yang bercita-cita mendidik diri dan oleh ulama-ulama yang haq.

Sebaiknya kita juga mengamalkan tarekat sunat untuk memudahkan jalan kita menuju Allah. Orang yang mengamalkan tarekat sunat ini akan dibantu dalam bermujahadah melawan nafsu dan mendidik hati ke arah taqwa. Perlu diingat dalam kita mengamalkan tarekat sunat, kita tidak boleh meninggalkan tarekat wajib, karena amalan sunat tidak akan memiliki nilai apa-apa tanpa mengerjakan amalan wajib.

Hakikat

Setelah seseorang itu bersyariat dan bertarekat sungguh-sungguh dia akan dapat rasa Hakikat, yaitu rasa yang Allah jatuhkan ke hati hambaNya yang Dia pilih dan kehendaki. Orang ini tidak lagi memiliki sifat mazmumah (sifat jahat). Sifat-sifat mahmudah (terpuji) menghiasi dirinya, seperti rasa syukur, redha, zuhud, tawakal, pemurah, dan lain-lain. Jiwanya tidak terpengaruh dengan perubahan suasana. Allah letakkan dalam hatinya rasa tenang dan damai. Firman Allah :

Ketahuilah dengan mengingati Allah itu hati akan tenang

[Q.S. Ar Rad : 128]

Orang berzikir yang mendapat ketenangan itu mulutnya menyebut Allah, hati merasakan kebesaran Allah dan perbuatannya melaksanakan perintah Allah. Soal hakikat atau buah ibadah tidak dapat dipelajari. Siapa yang dapat, dia akan merasakannya. Orang yang telah mendapat hakikat, dikatakan orang yang benar-benar kenal Allah.

Makrifat

Orang yang telah sampai ke tingkat makrifat dikatakan orang-orang yang Al ‘Arifbillah atau golongan ‘Arifin. Mereka ini kenal Allah dengan mata hati dan mereka telah mencapai taraf bertaqwa. Mereka benar-benar dapat melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah yang haram dan makruh.

Kalau ada orang yang melaksanakan syariat dengan sungguh-sungguh, memahami kelima hukum dengan sungguh-sungguh tetapi tidak tenang, tidak redha, tidak sabar dan lain-lain dia harus memeriksa dirinya, muhasabah dirinya kembali. Kalau bukan kesalahan di bidang Tauhid, mungkin salah di bidang fiqih atau di bidang tasawuf.