Antara Zuhud dan Cinta Dunia

Pengertian Zuhud

Kata zuhud apabila dilihat menurut bahasa artinya meninggalkan dunia. Sedangkan takrif istilah Islam, arti zuhud adalah hati tidak terpaut atau tidak terpengaruh dengan dunia dan segala nikmatnya. Pengertian menurut syariat ini yang akan menjadi dibahas di sini karena zuhudyang sesuai syariat disukai oleh Allah dan Rasul. Hal itu juga termasuk dalam sifat-sifat mahmudah.

Jika pengertian zuhud seperti itu, tidak semestinya orang yang zuhud itu tidak memiliki dunia atau mesti meninggalkan segala nikmat dunia. Boleh jadi nikmat dunia yang dia dimiliki lebih banyak dari orang lain atau dia mengendalikan banyak urusan dunia. Namun, dunia yang melimpah itu, yang dimiliki atau yang dikendalikannya itu tidak mempesona dirinya. Dunia yang melimpah itu tidak sedikit pun jatuh ke hatinya. Bahkan baik dunia itu ada atau tidak, sama saja padanya.

Dia memiliki dunia serta mentadbirnya adalah dengan tujuan agar dunia itu dijadikan alat untuk memudahkan beribadah kepada Allah SWT dan berkhidmat sesama manusia. Dunia yang dimilikinya itu dijadikan jambatan untuk ke Akhirat. Ini sesuai pula dengan tuntutan ajaran Islam yang dinyatakan dalam hadis Nabi Muhammad saw:

Maksudnya: “Dunia itu adalah tanam-tanaman untuk Akhirat.” (Riwayat Al ‘Uqaili)

Itulah Islam. Islam mengajar atau mendidik kita bahwa dunia itu boleh diambil tetapi biarlah ia dapat dijadikan modal untuk beribadah kepada Allah dan melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya kepada manusia.

Demikianlah, supaya dengan itu memudahkan seseorang itu untuk mendapatkan pahala sebanyak- banyaknya agar dia memperoleh nikmat Syurga di Akhirat. Siapa yang menjual dunianya untuk Allah atau untuk Akhiratnya, maka Allah akan beli dengan bayaran yang berlipat ganda, jauh lebih tinggi nilainya. Yaitu digantikan dengan nikmat Syurga yang kekal abadi dan terhindar daripada siksa Neraka yang amat azabnya.

Persoalannya sekarang, bagaimana hukum dan cara kita mengambil dunia ini? Dan bagaimana cara mengendalikan dunia ini setelah realitinya ia berada di hadapan kita?

Pada saya ada beberapa kategori yaitu:

1. DUNIA YANG WAJIB

Dunia yang wajib diambil selagi ia halal ialah sekadar keperluan asas saja. Yang tidak boleh tidak (dharuri), yang mesti ada seperti tempat tinggal, makan minum, pakaian dan lain-lain. Kalau tidak diambil akan berlaku kecacatan di segi syariat atau di sudut fisik. Siapa meninggalkannya, haram hukumnya kecuali setelah diusahakan tidak behasil memperolehnya. Ini tidak menafikan zuhud.

2. DUNIA YANG SUNAT

Dunia yang sunat diambil ialah perkara yang digunakan (selagi halal) untuk kemudahan di dalam menunaikan tanggungjawab yang wajib serta digunakan untuk menghasilkan perkara yang tidak boleh tidak. Seperti kenderaan yang perlu, alat-alat rumah yang memudahkan menjalankan tugas rumah tangga seperti dapur gas, pinggan mangkuk, periuk, dulang, mesin cuci, mesin jahit dan lain-lain.

Agar dengan itu tidak membuang waktu yang banyak. Dan memudahkan menjalankan tanggungjawab. Bahkan adakalanya menjadi wajib aradhi (wajib mendatang). Kalau tidak ada alat-alat itu maka urusan yang wajib menjadi terkendala. Ini juga tidak menafikan zuhud. Perlu diingat, keperluan seseorang antara satu sama lain tidak sama. Maka sudah tentu alat-alat keperluan tidak sama. Sebagai contoh, alat-alat keperluan seorang guru sudah tentu tidak sama dengan alat-alat keperluan seorang petani. Kiaskanlah yang lain-lainnya.

3. DUNIA YANG HARAM

Dunia yang haram wajib ditolak seperti arak, uang judi, suap, hasil riba, hasil zina, tipu, rompak dan lain-lain. Ini karena perbuatan yang haram itu akan membawa ke Neraka.

4. DUNIA YANG MAKRUH

Dunia yang makruh diambil yaitu harta-harta yang syubhat. Yakni perkara-perkara yang samar-samar bercampur antara yang halal dan yang haram, yang tidak dapat dipastikan yang mana halal dan yang mana haram. Maka hukumnya makruh. Bagi orang yang warak, dia terus meninggalkannya. Sesiapa yang terlibat dengan harta syubhat ini ternafilah zuhudnya karena ia dibenci.

5. DUNIA YANG MUBAH

Dunia yang mubah (harus) diambil yaitu yang berbentuk untuk bersedap-sedapan, untuk kenyamanan seperti kursi yang mewah, buaian, kursi istirahat, tilam, tempat tidur yang mahal, kamar yang agak luas dari kadar biasa tetapi tidak keterlaluan besarnya, kenderaan yang mewah dan lain-lain, selagi halal. Cuma hisabnya banyak dan ia juga menafikan zuhud.

6. PEMUBAZIRAN

Perkara yang halal sekalipun, kalau digunakan terlalu berlebih-lebihan, sudah melebihi batas kenyamanan dan bersedap-sedap, ini sudah dianggap pemubaziran. Sedangkan pemubaziran adalah haram di sisi Allah. Dalam Al Quran pemubaziran itu dianggap sebagai kawan syaitan. Firman-Nya:

Maksudnya: “Sesungguhnya orang yang membazir itu adalah saudara kepada syaitan.” (Al Israk: 27)

Jadi, jika kita dapat menggunakan atau mengendalikan dunia yang dimiliki, yang tidak menafikan zuhud yaitu cara yang pertama dan kedua (dunia yang wajib dan sunat), ia masih dikatakan zuhud.

Dalam Islam, kalau seseorang itu mengambil dunia sekadar yang perlu dan untuk kemudahan atau paling tidak untuk kenyamanan, kemudian selain dari itu, dia tidak mau mengusahakannya karena kurang yakin dia boleh amanah dalam menggunakan dunia itu untuk Allah dan masyarakat, maka tidak salah dia berbuat demikian.

Demikianlah sebaliknya, kalau seseorang itu yakin dia dapat berlaku amanah pada dirinya terhadap dunia atau dapat mengendalikan dunia untuk Allah dan masyarakat dengan sebaik-baiknya, yakni dia yakin dapat berbuat kebaikan dan kebajikan yang banyak serta dapat bersyukur, maka tidak mengapa dia berusaha mencari kekayaan selagi halal. Padanya boleh berbuat demikian. Ini juga tidak menafikan zuhud.

Sebagai contoh: Katalah dunia itu ialah jabatan tinggi. Kita tidak yakin dengan jabatan itu kita boleh berlaku amanah terhadap Allah dan masyarakat, maka tidak salah kalau kita menolak jabatan tersebut. Sebaliknya, kalau kita yakin dengan jabatan itu kita dapat amanah dengan Allah dan masyarakat, maka tidak salah pula kita mengambilnya. Kalau harta, kita dapat mengambil sebanyak yang bisa didapat. Oleh karena itu kita perlu menghadapi dunia ini dengan iman dan taqwa agar dapat diurus dengan penuh amanah dan rasa tanggungjawab.

Perlu rasanya saya ingatkan, jika berlaku dalam satu masa atau satu zaman, secara umum masyarakat Islam tidak dapat melaksanakan fardhu kifayah; menyediakan keperluan makan minum yang halal, membangunkan tempat-tempat pendidikan, membeli persenjataan untuk melawan musuh-musuh, memberi beasiswa pada anggota masyarakat yang pandai supaya berilmu di berbagai bidang yang menjadikan masyarakat tidak bergantung kepada orang lain; maka bagi orang yang mampu di waktu itu, wajib aradhi dia mengusahakan hingga terlaksananya fardhu kifayah tadi. Kalau tidak, akan menjadi satu kesalahan pada mereka.

Juga diingatkan, apabila berzuhud jangan sampai kita atau Islam terhina. Ini dilarang kecuali kita memang tidak mampu walaupun sudah berusaha untuk mengadakan keperluan-keperluan yang asas. Di waktu itu tidak mengapa dan kita perlu bersabar. Jadi, kita perlu memahami sungguh-sungguh akan pengertian zuhud ini. Kalau tidak, jadilah kita orang yang mewah tidak bertempat atau miskin sampai terhina atau bermewah-mewah di sebarang tempat.

Maksudnya begini; untuk dapat mengekalkan zuhud mesti dilakukan beberapa cara. Di antaranya:

Mewah mesti tepat pada tempatnya. Contoh, kalau makan kenduri atau makan berjemaah, dibenarkan kita bermewah-mewah lauk-pauknya. Tetapi kalau kita makan seorang, eloklah berzuhud.

Miskin itu tidak dilarang tetapi tidak dibenarkan sampai tidak mencukupi keperluan-keperluan asas. Jadi dibenarkan miskin asal cukup keperluan asas.

Bermewah-mewah tidak boleh di sebarang tempat yakni di waktu orang semuanya miskin, tidak dibenarkan kita bermewah-mewah. Agar kekayaan itu dapat disalurkan kepada orang miskin.

Secara ringkasnya, kita boleh mengambil dunia ini tetapi perlu pertimbangkan mengikut ukuran semasa atau individu atau jemaah atau kumpulan atau pemimpin atau mengikut tanggungjawab serta tugas-tugas yang dipikul oleh seseorang dan lain-lain

Contoh: Mengikut ukuran semasa yang tidak menafikan zuhud:

Di zaman ini untuk efisiensi waktu, tenaga dan lain2, perlu naik kendaraan kapal terbang untuk perjalanan yang jauh, bukan pakai dokar yang ditarik sapi atau kuda atau naik mobil.

Di zaman modenr ini untuk berhadapan dengan musuh-musuh, perlu kita gunakan senjata-senjata canggih bukan lagi menggunakan keris.

Contoh: Mengikut ukuran kumpulan atau jemaah yang tidak menafikan zuhud:

Tidak salah bagi orang yang berjuang yang senantiasa sibuk, demi efisiensi waktu, tenaga dan lain-lain serta karena selalu didatangi tetamu, maka di rumahnya dilengkapi dengan kulkas, dapur gas, mesin cuci dan parabot untuk kemudahan lainnya. Tidak salah juga menyediakan permadani di rumah, di kantor dan di masjid selagi halal dengan tujuan menghormati tetamu atau kepentingan umum. Bahkan di negeri-negeri dingin, menyediakan permadani di rumah dan di masjid sudah menjadi wajib aradhi pula.

Bahkan melengkapi alat-alat kemudahan ini sudah jadi perlu bagi orang yang berjuang yang masanya terbatas. Kalau terlalu lama masa dihabiskan untuk mencuci misalnya, ini dikira termasuk pemubaziran waktu, tenaga dan lain-lain. Sedangkan waktu itu sepatutnya lebih baik digunakan untuk pengurusan hal-hal yang lebih perlu. Katalah contohnya, dengan adanya mesin cuci, kita ada waktu lebih untuk melayan suami terutama kalau suami kita pulangnya pun hanya sekali-sekala. Boleh juga diniatkan sewaktu mesin cuci itu bekerja, kita dapat istirahat atau tidur, dengan tujuan dapat bangun sembahyang malam. Kecuali untuk orang perseorangan yang tidak berjuang atau tidak ada tanggungjawab menyediakan kemudahan-kemudahan ini, dia tergolong orang yang tidak zuhud sebab kalau diberi kemudahan dia akan santai saja. Mungkin tidur baring saja atau duduk-duduk berbual kosong atau menjadikan dia berlalai-lalai. Ini menjadikan dia cinta dunia.

Berbeda dengan orang yang berjuang, yang waktunya terbatas, banyak tanggungjawab dan senantiasa bergerak cepat. Kalau tidak ada alat-alat kemudahan ini, ia akan melambatkan atau mengganggu program-program yang lain. Atau banyak tanggungjawab tidak dapat dilaksanakan.

Contoh lain: Mengikut ukuran pemimpin yang tidak menafikan zuhud. Bagi seorang pemimpin, penting padanya keperluan alat-alat kemudahan yang canggih seperti mobil, telefon, faks, komputer, perbelanjaan perjalanan dan lain-lain lagi. Kalau tidak ada kemudahan alat-alat tadi, sudah tentu terkendala perjuangannya.

Juga diingatkan, kalau duit kita terbatas, janganlah dihabiskan untuk membeli barang-barang untuk kemudahan. Dibimbangkan, nanti tidak ada langsung bagian untuk kita berbelanja pada perkara-perkara yang asas atau terabai kewajiban fardhu kifayah. Ini akan jadi satu kesalahan. Karena perkara yang asas, wajib ditunaikan dan membangunkan masyarakat itu adalah lebih perlu supaya terlaksananya fardhu kifayah. Itu lebih patut kita utamakan. Biarlah kita susah sedikit asalkan kewajiban dapat ditunaikan.

CINTA DUNIA

Lawan zuhud ialah cinta dunia. Yakni orang yang hatinya terpaut dengan dunia atau mencintai dunia. Sama ada dia boleh memiliki dunia atau tidak, sedikit atau banyak, maka ternafilah sifat zuhudnya. Antara dunia itu ialah harta, yakni yang berupa uang, emas, intan berlian, rumah, kenderaan, tanah, kebun dan lain-lain lagi. Atau pangkat seperti jabatan raja, perdana menteri, menteri, direktur, dan lain sebagainya.

Dunia ini sifatnya mempesona seperti gadis cantik yang memperdaya. Siapa yang memandang semua akan jatuh hati. Jadi siapa saja yang memandang atau memiliki gadis cantik ini tidak lepas dari tertarik atau tergoda padanya. Begitulah juga dengan orang yang cinta dunia. Sudah pasti dunia itu akan mempesonanya. Orang ini tidak akan dapat lepasdari tipu daya olehnya. Allah nyatakan hal ini di dalam firman-Nya:

Maksudnya: “Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang yang terpedaya.” (Al Hadid: 20 / Ali Imran: 185)

Allah juga memberi peringatan keras di dalam firman-Nya: Maksudnya: “Jangan sampai dunia itu menipu daya kamu.” (Luqman: 33)

Itulah dunia. Kenapa setelah Allah beri dunia, kemudian dilarang- Nya kita mengambil sewenang-wenangnya dan dunia itu dikatakan penipu pula? Apa maksudnya?

Maksud dunia itu menipu ialah ia menjadikan manusia lalai, tidak dapat tunduk dan tidak patuh lagi pada syariat Allah SWT. Kemudian cinta dunia boleh menyebabkan seseorang itu menjadikan matlamat hidupnya hanya untuk dunia walaupun dia tahu dunia ini tidak kekal. Dia tahu dia juga akan mati dan akan kembali ke Akhirat. Namun dia tidak buat persiapan atau persediaan apa-apa untuk ke sana.

AKIBAT CINTA DUNIA

Cinta dunia ini dapat mengakibatkan beberapa hal. Di antaranya:

  • Dia senantiasa bertungkus-lumus memburu dunia sehingga tidak pernah memperhitungkan halal atau haram.
  • Hatinya senantiasa bimbang atau tidak tenang kalau-kalau dia tidak mendapat dunia yang diburunya itu.
  • Dia jadi manusia yang inferiority complex atau hina diri dengan manusia yang berada bilamana dunia itu tidak dapat dimilikinya.
  • Kalau dia memiliki dunia itu, bimbang pula kalau-kalau hilang atau berkurang dari tangannya. Bimbang dibinasakan oleh bencana alam atau dicuri oleh manusia dan sebagainya.
  • Kalau dia lihat ada orang lain dapat lebih darinya, dia akan susah hati. Dia akan berusaha mencari lagi untuk mengatasi orang itu dengan apa cara pun, selain merasa hasad dengki terhadap orang itu.
  • Dia jadi orang yang berangan-angan untuk senantiasa terus menambah lagi dunia yang telah ada dan fikiran serta usaha-usahanya senantiasa ke arah itu.
  • Dia akan jadi orang yang tamak dan rakus.
  • Kalau dia memiliki dunia, dia akan jadi manusia yang sombong dan boleh jadi kejam.
  • Walaupun niatnya untuk mencari kebahagiaan atau ketenangan tetapi badan, hati dan fikiran tidak kenal istirahat, tidak ada ketenangan dan kebahagiaan lagi.
  • Ia tidak akan tunaikan kewajiban dengan dunia yang dimilikinya. Umpamanya, jika dia dapat pangkat atau jabatan dia akan jadikan itu semua untuk kepentingan diri peribadinya lebih dari Allah SWT dan dari berbakti kepada masyarakat.
  • Kalau dia orang yang berharta, ia tidak akan keluarkan zakat yang menjadi kewajibannya. Apatah lagi kewajiban yang aradhi dan untuk bersedekah.
  • Ia tidak akan tunaikan kewajiban yang aradhi (mendatang). Contoh, orang yang susah tidak dibantunya. Kalau negaranya menghadapi perang, bencana atau kesusahan, dia tidak akan memberi bantuan.
  • Akan timbul pecah belah dan hilang kasih sayang dan persaudaraan karena sombong dengan dunia dan kepentingan diri sendiri.

Manusia akan membencinya. Apatah lagi Allah. Sebab itu sebuah Hadis Nabi Muhammad SAW menyeru:

Maksudnya: “Hendaklah kamu zuhud dengan apa yang ada di dunia niscaya kamu akan dicintai Allah. Hendaklah kamu berzuhud dari apa yang ada pada manusia niscaya kamu akan dicintai oleh manusia.” (Riwayat Ibnu Majah)

Ia akan jadi perusak masyarakat. Karena hendakkan dunia, dia sanggup menipu, menyogok, rasuah, makan riba, beli undi, beli ijazah, beli kertas periksa, beli perempuan atau lelaki dan lain-lain lagi.

Kalau dia berjabatan pemerintah, mungkin dia jadi diktator, kejam, dzalim, yang sanggup menjatuhkan lawan dengan menaburkan uang untuk mempertahankan kedudukannya, menghina dan memfitnah orang demi mempertahankan jabatan atau karena inginkan jabatan itu.

Timbullah huru-hara, haru-biru, kucar-kacir, demontrasi atau mungkin juga peperangan di tengah-tengah masyarakat.

Demikianlah buruknya akibat cinta dunia ini. Maka berlakulah kemuncak kerusakan di kalangan umat Islam di akhir zaman ini. Hatta tidak berpadunya mereka karena inilah. Hingga mereka menjadi lemah dan binasa. Baginda Nabi Muhammad saw sendiri pernah berpesan:

Maksudnya: “Akan tiba ketikanya kamu akan dikeronyok oleh musuh-musuh sebagaimana orang-orang yang berebut untuk makan suatu hidangan.” Para Sahabat bertanya: “Apakah ketika itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Jawab Baginda: “Tidak, bahkan jumlah kamu ketika itu ramai sekali tetapi seperti buih-buih ketika air bah, sedang kamu ditimpa penyakit wahan.” Mereka bertanya lagi: “Apakah penyakit wahan itu ya Rasulullah?” Baginda menjawab: “Kecintaan kepada dunia dan takut mati.” (Riwayat Abu Daud)

Bahkan cinta dunia inilah yang menimbulkan seribu satu macam penyakit masyarakat. Sebab itu Baginda Nabi Muhammad saw mengingatkan kita:

Maksudnya: “Cinta dunia kepala segala kejahatan.” (Riwayat Al Baihaqi)

Di sinilah pentingnya memiliki sifat zuhud itu.

Pada saya, dunia itu boleh diambil atau dikendalikan dengan syarat kita tidak jatuh hati padanya dan mengambilnya mengikut keperluan- keperluan yang telah disenaraikan tadi. Tetapi kalau tidak ada dunia dalam tangan sedangkan hati gila dunia, tetap juga tidak dikatakan zuhud. Kalau begitu sebagai kesimpulannya, asas zuhud itu terletak pada hati itu sendiri. Bukan berarti tidak ada dunia, bahkan ada dunia tetapi hatinya tidak terpaut dan pandai menggunakan dunia itu pada tempatnya seperti yang telah kita jelaskan, orang itu tetap bersifat zuhud. Sebaliknya kalau tidak ada dunia tetapi hatinya terpaut dengan dunia, tetap dianggap tidak zuhud.

Mengenal Allah Dengan Hati

Sebenarnya yang disebut kenal Tuhan adalah kita kenal Tuhan dengan ruh atau hati. Cara cepatnya dengan mencari wasilah dengan berkat, tawasul dan doa. Orang yang tidak ada ruh dalam beribadah (ibadah tidak dihayati/ lalai), ia berdosa. Ketika mengadap Tuhan, hati ke mana-mana, tidak terasa kekuasaan Allah. Seolah-olah dalam majlis raja, buat kerja lain. Sebab itu orang yang bertaqwa, waktu dia mengadap Tuhan hatinya tersentuh, selalu merasa cemas tidak beradab dengan Tuhan. 

PERBEDAAN RASA BERTUHAN DAN BERPIKIR TENTANG TUHAN

Perasaan yang dimiliki oleh manusia, seperti rasa malu, rasa jijik timbul secara otomatik dan tidak dipaksa untuk merasakannya. Perasaan itu timbul begitu saja, ketika berhadapan dengan kotoran timbul rasa jijik, ketika berhadapan dengan harimau timbul rasa takut.

Merasa adalah kerja ruh. Perasaannya bertukar berdasarkan apa yang dilihat. Kalau lihat makanan rasa ingin, kalau melihat cacing rasa jijik. Begitulah perasaan itu selalu silih berganti. Begitu jugalah dengan rasa bertuhan. Kalau kita tidak kenal Tuhan, akan sukar untuk menimbulkan rasa bertuhan. Walaupun kita memiliki ilmu tentang Tuhan berkuasa, Tuhan memberi ilmu dan lain-lain lagi, tidak terasa Tuhan itu Maha Pelindung dan Penyelamat, Maha mengetahui dan seterusnya.Tetapi kalau kita tahu Tuhan berkuasa dan memahami bagaimana kuasa Tuhan itu, barulah sedikit banyak merasakan Tuhan berkuasa. Misalnya untuk merasakan pentingnya oksigen yang telah Allah beri dalam kehidupan kita. Kita tutup hidung, tentu tak lama kita dapat bertahan.

Bila orang yang tak ada rasa takut dengan Tuhan, seperti kisah seorang ibu yang membawa anaknya masuk ke tengah hutan. Sampai di rumah dia ceritakan pada ibunya dia bertemu dengan singa, yang dia katakan cantik dan dia pun belai-belai. Begitulah keadaan seorang anak yang tidak kenal dengan harimau, dia tidak ada rasa takut. Tetapi berbeda dengan dengan ibu yang telah kenal dengan harimau, tentu akan timbul rasa takut dan bimbang dengan keselamatan anaknya ketika mendengar cerita anaknya tentang perjumpaan dengan harimau.

Jadi untuk orang yang belum ada rasa, maka disuruh untuk berpikir. Sebagai latihan kalau kita melihat ciptaan Tuhan seperti gunung, sungai, laut, burung dan lain-lain, kita cuba kaitkan dengan Tuhan. Itulah yang disebut tafakur. Bila latihan selalu dilakukan, maka satumasa akan terasa secara otomatik, seperti perasaan-perasaan yang lain.

Bedanya dengan para sasterawan yang jiwanya halus, tetapi jika tidak dikaitkan dengan Tuhan, maka bila melihat gunung yang terasa betapa hebatnya gunung. Bila melihat laut yang terasa betapa hebatnya laut. Sebab itu mereka seperti orang yang tidak siuman, asyik dengan diri sendiri. Jadi di tahap awal yang perlu dilakukan adalah berpikir tentang ciptaan Tuhan. Tetapi lama kelamaan, bila sudah kenal Tuhan maka akan datang perasaan-perasaan yang berkaitan dengan Tuhan secara otomatik, seperti rasa takut, bimbang, cemas dll.

Sebab itu orang-orang yang hatinya sudah sentiasa merasakan wujudnya Tuhan, maka akan timbul rasa mabuk.


Mata Kepala, Mata akal dan Mata hati

Dalam kita merasakan kebesaran Tuhan, mata kepala sebagai muqaddimah (pendahuluan) untuk penglihatan selanjutnya. Adanya gunung, laut, sungai dan lain-lain terlihat wujudnya dengan pandangan mata kepala. Setelah pandangan mata melihat wujudnya sesuatu, kalau mata akal kita hidup maka akan tergerak untuk berpikir. Bila akal berpikir, ertinya akal melihat, itulah akal yang hidup, akal yang jaga. Kalau hanya mata kepala melihat, hasilnya sedikit bahkan kadang tertipu, misalnya lihat gunung dari jauh cantik, hijau, padahal setelah dekat tidak seperti itu.

Apa yang dilihat oleh mata kepala, kalau akal kuat memikirkannya, maka akan mendapat ilmu. Kalau melihat benda yang hijau, akal melihat atau buat kajian. Tetapi yang lebih halus lagi, akal dapat melihat benda bukan hanya yang lahir, bahkan juga ada sistem. Itulah yang dapat dikaji oleh ahli ilmu pengetahuan (saintis). Sebab itu bila akal bertambah tajam makin banyak rahasia alam yang dia dapatkan.

Di sinilah perlunya mata hati. Kalau pikiran tidak didasarkan dengan ruh (mata hati) maka akan semakin membutakan hati. Ketika mata melihat, kemudian akal berpikir, mesti berasaskan ruh, supaya makin banyak berpikir, manusia makin terasa kehebatan Tuhan. Makin terlihat kehebatan ayat-ayat Tuhan. Bila kita sudah sering melakukan itu maka secara otomatik bila mata melihat sesuatu, hasilnya akan dapat melihat kebesaran Tuhan. Setelah itu tak perlu berpikir lagi dalam melihat kebesaran Tuhan, langsung terasa ke dalam jiwa.

Bagaimana dalam bekerja selalu ingat Allah

Kalau pengaruh kebesaran Allah sudah sangat terasa ke dalam jiwa kita maka kita berbuat apa saja selalu ingat dengan Allah. Misalnya bila kita sedang makan tiba-tiba ada harimau, apakah rasa ingin makan masih ada ? Tentu rasa takut dengan harimau lebih besar mempengaruhi jiwa kita daripada rasa ingin makan. Contoh lain, bila kita sayang dengan anak bungsu tiba-tiba dipisahkan tentu akan terkenang selalu. Begitu juga sang anak, bila ibunya di rumah sakit, walaupun dia berada di rumah tentu hatinya teringat dengan ibunya.

Kalau ingat Allah itu masih di akal, ketika kita berpikir hal lain, maka ingatan kepada Allah akan hilang. Sebab itu Allah mesti dirasakan dengan hati, sehingga walaupun akal berpikir hati selalu terkenang dengan Allah. Orang yang mabuk dengan Allah, hingga tidur pun masih terbawa rasa bertuhan. Walaupun fisiknya tidur, tapi ruhnya bekerja. Seperti seorang wali Allah, dalam tidur dia bertahlil.

7 Peringkat Zalim

“Tuhan (Allah) tidak menzalimi mereka itu (maksudnya manusia), tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (Ar Rum: 9)

Ketika berbicara mengenai zalim, maka zalim itu berperingkat-peringkat. Tulisan ini akan membahas mengenai 7 peringkat zalim yang dilakukan oleh manusia.

1. Zalim dengan Tuhan.

Zalim dengan Tuhan meripakan penzaliman peringkat tertinggi, tak ada yang lebih tinggi. Apa arti zalim dengan Tuhan? Tidak kenal Tuhan atau syirik dengan Tuhan, tidak takut dengan Tuhan, tidak cinta dengan Tuhan, tidak peduli dengan Tuhan, hidup ini tidak dihubungkan dengan Tuhan.

Setiap hari kita zalim dengan Tuhan tetapi hal ini jarang terpikir oleh kita. Hidup kita sehari-hari tidak peduli Tuhan. Padahal, dalam Al Quran Allah berfirman: “iqra bismi rabbika” Bacalah atas nama Tuhanmu.

Jadi, ketika hendak melakukan apa saja buatlah atas nama Tuhan. Berjuang, membangun, berekonomi, mendidik, berbudaya, mengurus, dll mesti atas nama Tuhan. Artinya, segala sesuatu yang kita lakukan mesti dikaitkan dengan Tuhan, mesti ada hubungan dengan Tuhan. Kalau tidak, kita telah melakukan penzaliman yang paling tinggi.

2. Zalim dengan Fisik Pemberian Tuhan

Melihat dengan mata mesti atas nama Tuhan. Mendengar, berbicara, bertindak, gunakan tangan, kaki mesti atas nama Tuhan. Artinya, tindakan fisik kita selaras dengan kehendak Tuhan. Jangan sampai mata, telinga, mulut tangan, kaki mendurhakai Tuhan. Semua gerak gerik kita jangan bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kalau berlaku kita melakukan penzaliman peringkat ke-2.

3. Zalim dengan Harta Karunia Tuhan.

Harta milik Tuhan, Tuhan bagi pada kita. Ada yang dapat sedikit, miskinlah dia. Ada pula yang mendapat banyak hingga menjadi milyader. Harta yang Tuhan bagi kepada kita janganlah digunakan sedikitpun selain karena Tuhan. Mesti selaras dengan kehendak Tuhan. Sebab yang kita miliki itu milik Tuhan. Harta itu tidak boleh kita gunakan sesuka hati, mesti ikut cara Tuhan, baik disebut zakat, sedekah. Kalau tidak kita buat penzaliman yang ke-3.

4. Zalim kepada manusia lain.

Zalim kepada manusia lain seperti: memukul, mengata, menjatuhkan, mempermalukan dimuka umum, menghina, memfitnah, mencuri. Zalim yang ada hubungannya dengan manusia lain ini yang dibesarkan setiap hari. Zalim peringkat tertinggi sepi-sepi saja. Jenis yang kedua juga tidak pernah diperbincangkan, yang ke-3 juga kurang diperkatakan oleh orang. Tetapi, yang ke-4 ini yang sering dibicarakan orang.

“Tidak sepatutnya dia memukul saya”

“Mengapa dia menebarkan fitnah mengenai saya”

Zalim jenis ini setiap hari dihebohkan. Sehingga, perkataan zalim sudah dipersempit maknanya.

5. Zalim dengan Jabatan Yang diemban.

Jabatan ada bermacam-macam. Mungkin dia Presiden, Gubernur, Menteri, Dirjen, Irjen, Kasubdit, Kabag, dll. Jabatan-jabatan ini kalau tidak diemban selaras dengan kehendak Tuhan maka dia dikatakan zalim.

Zalim dengan jabatan ini juga selalu dibesar-besarkan orang. Nampak Presiden zalim. Gubernur zalim. Yang terlihat adalah jabatan yang besar-besar. Kalau jabatan-jabatan yang dibawah, jarang disebut orang mengenai kezalimannya. Sekecil apapun jabatan, mesti selaras dengan kehendak Tuhan. Kalau tidak selaras dengan kehendak Tuhan, itulah zalim.

6. Zalim dengan ilmu.

Soal ilmu ini, ada yang dapat banyak ilmu ada pula yang dapat sedikit. Baik yang dapat banyak ilmu ataupun yang dapat sedikit ilmu, kalau ilmu tersebut digunakan bukan untuk Tuhan alias untuk kepentingan diri, itulah zalim.

Di zaman ini orang banyak yang menyalahgunakan ilmu ( bahkan ILMU ISLAM ! ) bukan untuk Tuhan tapi untuk duit, kemegahan, nama, dan jabatan. Itulah zalim. Namun, tentu saja hal ini tidak pernah masuk surat kabar. Orang yang menggunakan ilmu untuk kepentingan diri tidak terfikir kalau dirinya zalim. Bahkan, saat ini orang yang megah dan sombong dengan ilmu tidak dikatakan zalim lagi. Bahkan orang menganggap dia memiliki wibawa. Sombong dengan ilmu, “hebat, orang ini memiliki ilmu”. Aneh sekali, durhaka dengan Tuhan dan hendak masuk neraka dikatakan memiliki wibawa?

7. Zalim dengan ruh/perasaan.

Hari ini, tidak ada orang yang menyebut-nyebut mengenai zalim jenis ini. Surat kabar, radio, TV juga tidak pernah menyebutkannya. Sepatutnya ruh atau perasaan kita adalah untuk Allah, untuk cinta dan rindu pada utusan Allah, Nabi Muhammad saw

Hari ini apa yang orang rasa:

“aduh sakit, kapan ya sehatnya?”

“sedihnya hidup miskin dan melarat, kapan bisa kaya”

“Istriku kok tidak menyayayangiku ya?”

Perasaan sepatut diberi pada Tuhan. Tapi perasaan sudah disalahgunakan, sedih karena sakit, susah karena miskin, susah karena istri yang kurang menyayangi. Ini juga zalim. Sepatutnya perasaan sedih kita itu sedih dengan dosa-dosa kita. Perasaan susah kita itu karena kita tidak bisa menolong orang. Perasaan cinta dan rindu itu terutama pada Nabi Muhammad saw, manusia yang paling utama dan paling agung. Itu namanya menggunakan perasaan seperti kehendak Tuhan.

Zalim ini luas sekali maknanya. Sayang, orang hanya membesarkan yang no 4. Sebab itu ada ayat Qur’an yang maknanya,

Jangan engkau campakkan diri engkau dalam kebinasaan.” (Al Baqarah : 195)

Ayat ini ditujukan ditujukan kepada orang yang tidak mendermakan harta mereka. Orang yang tidak bersedekah artinya mencampak diri dalam Neraka, itulah zalim. Orang yang tidak berkorban harta dianggap zalim. Tapi zalim yang paling top adalah orang yang tidak kenal Allah, tidak takut Allah, tidak cinta Allah serta melupakan utusan Allah, yakni Nabi Muhammad saw.

Kalau kita bahas, zalim peringkat teratas itu ada dalam diri kita. Kalau tidak selalu, sekali sekala kita buat juga kezaliman yang paling besar ini. Kalau orang paham zalim pada Tuhan begitu luas, ia tidak akan bergaduh. Walaupun orang zalim pada dia, dia tidak nampak kezaliman orang itu padanya, karena kita sendiri zalim pada Tuhan. Namun, karena yang besar tidak nampak, yang nampak bentuk kedzaliman yang lain. Kezaliman yang lain itulah yang akhirnya yang dibesar-besarkan. 

Akibat Tiada Didikan Ruhani

Apa jadinya kalau sedari kecil manusia tidak didik ruhaniahnya? Apa jadinya kalau sedari kecil dia hanya diberi ilmu mengenai syariat yang lahir saja? Dia hanya diberi ilmu mengenai tata cara shalat, tata cara puasa, tata cara bersuci, dan berbagai macam syariat yang lahiriah sedangkan dia tidak dididik mengenai syariat yang batiniah seperti merendah diri, jujur, amanah, bersangka baik dan sebagainya.

Kalau seperti itu, dia akan lebih mengenal orang lain daripada dirinya sendiri. Kejahatan orang lain akan terlihat lebih jelas di matanya dibandingkan kejahatannya sendiri. Dia mampu melihat dan menila kesombongan dan ego orang lain. Namun, pada waktu yang sama dia tidak mampu melihat kesombongan dan ego dirinya sendiri yang lebih besar. Semut di seberang Nampak gajah dipelupuk mata tak Nampak, begitu kata peribahasa.

Dia memandang jahat kepada orang lain yang tidak membantunya ketika dia sedang mengalami kesusahan. Padahal diatidak pernah membantu kesusahan ornag lain. Dia tersinggung apabila ada orang lain yang mementingkan dirinya sendiri sedangkan dia tidak sadar kalau mementingkan diri sendiri sudah menjadi budaya hidupnya.

Dia merasa tak sepatutnya orang lain itu bakhil sedangkan kalau dirinya sendiri yang bakhil itu tidak mengapa. Orang lain tidak sabaran dia mampu melihatnya dengan jelas, tetapi dirinya sendiri yang tidak sabaran dia tidak mampu memahaminya.

Itulah akibat dari kesalahan mendidik manusia dari kecil. Persoalan ruhaniah atau persoalan hati yang berkaitan dengn asifat mazmumah (sifat jahat) dan sifat mahmudah (sifat baik) tidak pernah dikenalnya. Kalaupun diajarkan mengenai agama Islam, itu hanya menekankan persoalan-persoalan lahiriah semata. Akibatnya dia tidak mampu mengenal dirinya sendiri. Tidak kenal diri artinya dia tidak dapat menilai diri. Maka dia hanya akan melihat kejahatan orang lain sedangkan kejahatannya sendiri tidak mampu dikenalinya. Karena itulah, orang yang seperti ini selalu saja menudingkan jarinya kepada orang lain. Dirinya terkecuali dari kesalahan itu. Begitu banyak manusia bersikap seperti ini di akhir zaman ini.